Cerpen Bagus Dwi Hananto (Jawa Pos, 07 April 2019)

Malam-Malam Dazai ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Malam-Malam Dazai ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DAZAI Kagari menutup daun jendela setelah semua di luar begitu pekat. Saat ini memasuki November. Udara terasa kering dan malam hari sangat dingin. Musim gugur menjelang dan daun-daun mapel berubah warna. Kental dengan merah menyala. Seperti darah. Ya, darah. Hanya lampu di tengah kamarnya yang terus menyorotkan sinar setelah jendela dia tutup. Sudah begitu malam dan angin dingin baru saja masuk. Dazai menggelar futon di tengah-tengah kamar. Menutup pintu sorong yang memperlihatkan ruang kerjanya yang berantakan. Besok dia mesti berbenah. Pikirnya. Seperti pikirannya di hari-hari lalu.

Hanya ada inisiatif tanpa tindakan. Sebab, dia hidup sendiri. Sebelum tidur, lintasan masa lalunya berhasil menerobos rasa kantuk yang memberati diri. Sebagaimana orang-orang yang hidup dengan masa kecut, penuh penyesalan, dan kegundahan. Dazai mengingat sesuatu yang terasa jauh walau dirinya seolah teryakinkan, masa yang jauh itu baru saja dilalui. Seakan itu hanya selompatan kodok menuju luasnya danau.

Ingatan Dazai memasuki usia mudanya, saat mengajak seorang perempuan bunuh diri dengan melompat dari tebing karang di pinggir laut. Waktu itu malam hari dan polisi antihuru-hara mencari-cari para pendemo yang berhasil melarikan diri. Dazai muncul di kegelapan gang, lalu masuk ke sebuah bar dengan tubuh penuh keringat dan ketakutan. Seorang perempuan yang dikenalnya berhasil menyembunyikan dirinya di bawah meja, dengan kepala menelusup di sela-sela selangkangan si perempuan yang saat itu mengenakan terusan panjang. Perempuan itu penghibur di bar tersebut. Polisi tak berhasil menemukannya.

Nanaseko, nama perempuan itu. Namanya seakan menjadi pengikat kepribadiannya yang riang gembira dan tak mudah gemetar menghadapi cobaan hidup. Dazai menghabiskan waktu bersama Nanaseko setelahnya.

Dazai, seorang pesimis yang muncul dari lembah kegelapan dan linglung akan idealisme, terkapar sehabis mabuk dengan perempuan itu di sampingnya. Seperti yang dia kenang dengan begitu jelas, saat itu Nanaseko mengajaknya meninggalkan dunia bersama-sama. Dazai tentu saja menyanggupinya. Toh, dia sudah lelah hidup dalam limbung.

“Besok malam?” tanya perempuan itu.

Dazai hanya mengangguk. Saat itu dia sudah mendengar deru laut memanggilnya.

Advertisements