Cerpen Putra Hidayatullah (Serambi Indonesia, 07 April 2019)

Hipokrit ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Hipokrit ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

SAWUNG, politikus berjas gelap dengan rambut klimis yang selalu tersisir ke belakang, memotong daging dengan tangan kanan dan memasukkannya ke mulut dengan ujung garpu. Sambal dilebur di atas daging sangat pedas, membuat matanya berkaca-kaca. “Apa rencanamu?” Ia berkata. Seorang pelayan laki-laki membungkuk meletakkan tisu tambahan lalu pergi.

“Sulit tinggal di sini kalau kau tidak punya tujuan.” Ia berdehem. “Ini Jakarta”

Dokni, seorang lelaki yang baru tiba, menatap dengan raut lesu. Ia bertubuh jangkung. Kaos kumal yang ia pakai tidak cocok dengan interior restoran yang mewah.

“Belum tahu apa yang akan kulakukan, Bang,” Dokni grogi.

Melalui kaca jendela yang dirembes rintik hujan terlihat  malam telah tiba. Di luar terdengar klakson lusinan kendaraan yang merangsek melawan kemacetan kota. Sawung mengelap bibirnya dengan tisu. Ia berdehem membersihkan sisa serak di kerongkongan.

“Aku tidak punya waktu banyak. Sekarang katakan padaku,” Sawung bersendawa, “Kenapa kau lari ke mari? Ada masalah apa di kampung?”

“Tidak ada, Bang” wajah Dokni pucat.

Sawung menyeringai, “Dok,” ia mengeluarkan rokok dan menyelipkan sebatang di bibir, “politik  mengajariku banyak hal,” ia merogoh korek di saku jas. “Ada sesuatu dalam dirimu yang tak bisa membohongiku.”

Dokni tertunduk sayu. Bibirnya bergetar. “Aku menghamili anak Pak Geusyik, Bang,” Jantungnya berdebar-debar. “Maaf, Bang!”

“Untuk apa kau minta maaf padaku?” Sawung tertawa. Di tengah gumul asap, matanya memicing. “Katakan, apa yang kau butuhkan dariku?”

“Kau orang berpengaruh, Bang. Aku perlu perlindungan. Aku tak mau dicambuk.”

Sawung menyeringai. Ada keheningan di antara mereka.

“Berapa kali kau melakukannya?”

Dengan bergetar, ia mengangkat kedua tangannya dengan jemari terbuka kecuali kelingking kanan.

“Sembilan kali?” Sawung terkekeh, “Kau melakukan itu semua sendirian.” Ia menyentil abu rokok ke asbak. “Kau menikmatinya. Dan sekarang kau datang padaku memohon pertolongan.”

Advertisements