Cerpen Supartika (Kompas, 07 April 2019)

Dolag Melukis Tuhan ilustrasi Samuel Indratma - Kompasw.jpg
Dolag Melukis Tuhan ilustrasi Samuel Indratma/Kompas 

Si tua bangka Dolag menaruh kanvas lukis berukuran 90 x 50 sentimeter di atas potongan kayu yang disandarkannya pada tembok. Ia pandangi kanvas itu sebelum akhirnya menyeringai, memperlihatkan giginya yang ompong di bagian depan dan sisanya berwarna kuning kehitaman. Kumisnya yang memutih sedikit terangkat, maklum kini ia telah memasuki usia kepala tujuh.

Dolag beranjak ke meja yang berada di dekat pintu, mengambil dua kaleng cat warna merah dan hitam serta tiga buah kuas dengan ukuran bervariasi. Duduk di depan kanvas, menaruh cat, dan ia kembali menyeringai sambil membayangkan sesuatu yang akan muncul dari kanvas di depannya jika tangannya telah mulai menggoreskan kuas berisi cat.

Perlahan dan pasti ia buka tutup kedua kaleng cat itu dan tutupnya ditaruh di samping masing-masing kaleng cat dengan kondisi tengadah. Cat merah ia tuangkan pada tutup kaleng yang kemudian disusul dengan cat hitam. Ia ambil kuas yang berukuran sedang dan mulai mencelupkannya pada cat merah yang telah dituang ke tutupnya.

Sambil mengaduk diangkatnya tutup kaleng cat itu, dan ia mulai menatap kanvas yang ada di depannya. Kadang ia menjauhi kanvas, kadang ia mendekat dan bahkan sangat dekat hingga mukanya menempel pada kanvas.

Ia kembali tersenyum dan dalam sekali hentakan, ia membuat cipratan kecil warna merah pada sisi kanan atas kanvas. Diamatinya bentuk cipratan yang terbentuk, lantas ia mulai mencari bentuk obyek yang cocok dengan cipratan itu. Si tua bangka itu membayangkan bahwa cipratan yang terbentuk serupa ekor burung. Namun ia segera mengubahnya dan membayangkan itu adalah cakar naga.

“Oh tidak,” ia mulai menaruh cat dan kuas lalu mendekatkan matanya pada cipratan yang terbentuk, dengan teliti dan seksama ia pandangi setiap lekuk pada cipratan itu. “Ini bukan ekor burung ataupun cakar naga. Ini tangan Tuhan. Ya, ini tangan Tuhan yang turun dari langit. Tangan Tuhan hadir dalam kanvasku. Luar biasa.”

Perlahan ia mendekatkan telunjuk pada cipratan cat itu. Ketika telunjuknya berjarak hanya beberapa milimeter, ia menarik kembali dengan cepat.

“Tuhan hadir di atas kanvasku.”

Advertisements