Cerpen Yuditeha (Koran Tempo, 06-07 April 2019)

Pertanyaan Kiai Sadrach ilustrasi Koran Tempow.jpg
Pertanyaan Kiai Sadrach ilustrasi Koran Tempo 

Dari dalam rumahnya, Sadrach membuka pintu depan. Di sana didapati Sukiran, salah satu pemuda yang menjadi anggota jemaatnya. Sukiran membawa sebuah surat yang akhirnya diberikan kepada Sadrach. Usai menyerahkan surat, Sukiran langsung permisi pergi. Sadrach memperhatikan kop surat tersebut, bertulisan: N. G. Z. V – Kepengurusan Gereja. Dibawanya surat itu menuju bangku teras.

Sementara pada saat itu senja tampak sempurna oleh warna jingga yang tergambar di awan sebelah barat. Setelah Sadrach duduk di bangku tersebut, dia membuka surat itu dan mulai membacanya. Pandangan matanya langsung berfokus pada inti dari isi surat.

Jika yang Tuan Sadrach lakukan tidak sesuai dengan apa yang selama ini kami dengar, anggap saja surat ini sebagai sapaan kami. Tapi, jika apa yang Tuan lakukan ternyata sesuai dengan apa yang mereka tuduhkan kepada Tuan, jadikan surat ini sebagai peringatan bahwa apa yang Tuan kerjakan akan membahayakan, selain terhadap ajaran Kristen, juga terhadap pemerintahan Belanda.

Tuduhan pertama mereka terhadap Tuan, perihal kekuasaan dan kepemimpinan Tuan telah dianggap melampaui batas kekristenan yang benar, sehingga hal itu bertentangan dengan prinsip Calvinisme. Tuduhan berikutnya karena pengaruh Tuan pada pengikut-pengikut Tuan begitu besar dianggap sebagai usaha untuk menandingi pemerintahan Belanda.

Oleh karena itu, untuk menguji bahwa Tuan terlepas dari tuduhan-tuduhan tersebut, kami sarankan kepada Tuan dan jemaat Tuan berlindung pada kepengurusan Gereja Negara. Demikian surat ini, semoga dapat menjadikan periksa. Terima kasih.

Sadrach ingin tahu siapa penulis surat tersebut. Dia memperhatikan bagian bawah surat sebelah kanan, di sana tertera sebuah nama, Bieger.

Usai membaca surat itu, Sadrach termangu. Pandangan matanya lurus ke depan seakan dia sedang mencari batas cakrawala yang hilang tertutup beberapa rumah penduduk, dan pohon-pohon tinggi yang tumbuh di depan rumahnya. Warna jingga di awan sebelah barat mulai meredup.

Sekilas wajah Sadrach yang semula terlihat cerah berubah masygul, senada dengan perubahan warna awan barat itu. Sebuah warna kemuraman, dan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa pada dirinya. Tanpa Sadrach sadari, dari balik pohon kedondong yang ada di pinggir jalan depan rumahnya, Sukiran memperhatikan. Rupanya anak muda itu tidak benar-benar pergi dari rumah Sadrach. Dia berhenti tepat di balik pohon kedondong itu. Pada saat Sukiran tahu wajah tuannya bermuram durja. Sukiran memberanikan diri kembali mendekatinya. Pikir Sukiran, siapa tahu tuannya sedang memerlukan bantuan.

Advertisements