Cerpen Win Han (Radar Selatan, 01 April 2019)

Toko Ini Tidak Menj ual Apa-Apa Selain Kenangan ilustrasi SOPHIEMUNNS TUMBLR COMw.jpg
Toko Ini Tidak Menj ual Apa-Apa Selain Kenangan ilustrasi SOPHIEMUNNS TUMBLR COM

Irzati melangkahkan kaki dengan ragu. Sepatu haknya mengetuk-ngetuk lantai yang sebagian terbuat dari marmer. Ia menggeser pintu kaca toko. Sebagaimana suasana di jalanan, di dalam toko juga sepi. Hanya ada seorang lelaki tua berkacamata yang masih tampak segar. Lelaki itu berdiri di belakang meja kasir yang terlihat antik. Ruangan terasa hening dan dingin. Lelaki tua beruban tipis itu mengenakan kaos dan topi yang membuatnya tampak lebih muda beberapa tahun. Lelaki itu tengah menata barang-barang jualannya.

Lelaki tua menyapa Irzati. Irzati menimpalinya dengan anggukan sopan.

“Ada yang bisa saya bantu?” tawar lelaki tua.

Banyak, kalau bisa, aku ingin kau membantuku agar dapat menciptakan mesin waktu dan membuatku kembali ke masa lampau. Kata Irzati dalam hati.

“Benda apa saja yang dijual di sini?”

Akhirnya kalimat itu yang meluncur dari mulut Irzati. Sewaktu melewati Jalan Delimatadi, Irzati memang tak memerhatikan plang yang terpajang di depan toko. Ia memang tidak memerhatikan apa pun. Hanya berjalan dan berjalan terus, membiarkan angin membimbing langkahnya. Sejak sebulan, hidupnya seperti seorang pengelana yang kehilangan kompas di tengah hutan lebat. T ak ada arah pasti ke mana harus ia menuju. Kesehariannya pun dipenuhi sesal dan kesedihan. Meski teman-temannya kerap menyuruhnya untuk memaafkan dirinya sendiri. Tetap saja, rasa bersalah tersebut tak bisa semudah itu diusir. Perasaan berdosa itu bagai tamu pembawa kabar duka yang tak mengenal kata pulang.

Ia mendatangi toko semata-mata karena ia ‘ingin’, alasan yang sama sewaktu ia memutuskan hubungan dengan Marian, sebulan lalu. Keputusan yang kemudian disesalinya sampai sekarang.

“Toko ini tidak menjual apa-apa selain kenangan,” kata si lelaki tua. Singkat dan lirih.

Advertisements