Cerpen Andi Makkaraja (Rakyat Sultra, 01 April 2019)

Aku Masih Mencintaimu dan Aku Benci Pertemuan Ini ilustrasi Istimewa-y.jpg
Aku Masih Mencintaimu dan Aku Benci Pertemuan Ini ilustrasi Istimewa 

Setelah sepuluh tahun lamanya, kita kembali akan bertemu, maksudku apabila aku menyanggupi permintaan seorang teman untuk datang di perbincangan terbuka itu. Sejam sebelum pertemuan yang mungkin akan terjadi itu (atau mungkin tidak), aku sudah sibuk membayangkan bagaimana kini dirimu dan tentunya aku tak sanggup berharap kau masih seperti dulu. Sudah lama kau terkenal sebagai seorang penulis yang sukses, seperti cita-citamu dulu. Kau berubah terlalu jauh dan aku tak berani mengharapkan lebih darimu, apalagi memintamu untuk mencintaiku lagi.

“Dia akan datang. Di kafe itu, Ri. Kau ingin bertemu dengannya, bukan?” Demikian kata Ratih kali pertama mengabarkan kepadaku bahwa kau akan datang di kota ini. Pamflet di tangannya berpindah ke pahaku. Sebuah tulisan berisi pengumuman bahwa akan diadakan bincang santai tentang sebuah novel yang baru saja meraih penghargaan nasional. Aku enggan-engganan membaca namamu di pamflet itu; Herry Kiswanto. Tulisan namamu yang tak disertai foto itu kembali menyeruakkan ingatanku dan aku tak sanggup menahannya untuk tak merumpang dadaku.

Lama pamflet itu kupandangi sambil membiarkan dadaku dipermainkan kenangan yang satu demi satu datang menyambang. Kenangan-kenangan yang sejak sepuluh tahun lalu itu susah payah kukubur dan tak pernah berhasil, kini kembali menunjukkan dirinya dengan jelas. Menyadarkanku bahwa aku memang masih mencintaimu dan aku sangat membenci pertemuan ini yang mungkin saja benarbenar akan terjadi.

“Kau siap-siaplah. Sesudah magrib aku akan menjemputmu. Kau harus bertemu dengannya. Paling tidak, kau harus minta maaf.” Aku belum juga memutuskan apa-apa perihal pesan Ratih yang kuterima lewat telepon sejam lalu itu. Aku ragu menemuimu sebab bayangan perpisahan kita sepuluh tahun lalu masih jelas tergambar di kepalaku. Di antara aroma petrichor yang merambati udara, punggungmu perlahan menjauhiku yang terpaku di pelabuhan. Aku baru sadar rasa sakit dari sebuah perpisahan ternyata teramat dalam begitu kau berdiri di dek kapal lantas tegak memunggungiku tanpa pernah sekali pun menoleh ke belakang. Sakit itu semakin terasa begitu tubuhmu larung bersama Tilongkabila ke tengah samudera. Kau kembali ke tanah Bugis. Dan di sini—di Kota Seribu Benteng ini—sepuluh tahun lamanya, aku tak juga bisa lepas dari sesal dan rasa sakit karena perpisahan itu.

Advertisements