Cerpen Zahra Nurul Liza (Serambi Indonnesia, 31 Maret 2019)

Punggung ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Punggung ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

ORANG-ORANG yang menggunakan baju berlapis-lapis itu berlalu-lalang di jalan membawa timba berukuran sedang. Ukuran sebatas sanggup diangkut tangan. Timba-timba itu semula kosong,  kemudian akan diisi air dari sumur tua peninggalan ulama ternama yang berbibir sempit dan dalamnya tak sanggup ditangkap mata. Air sumur itu dipercaya mempunyai kekuatan magis yang mampu menyembuhkan segala penyakit bagi yang berpenyakit, dan mampu menangkal segala kemungkinan terburuk bagi yang masih sehat-sehat saja. Karena alasan itulah, orang-orang datang entah dari mana saja.

Para pengunjung santun dan beretika. Meskipun semua menginginkan air sumur ajaib itu segera memenuhi timba, tapi nyatanya tidak ada yang berebut. Mereka sudah terbiasa berbaris panjang demi mendapatkan air itu secara bersahaja. Tidak ada caci maki, tidak ada dialog-dialog yang mengarah pada pertanda ketidaksabaran. Mereka cenderung hanya diam saja. berbicara seadanya, itu pun jika dirasa perlu. Selebihnya hanya berdiri tegak menunggu giliran. Sesekali bagi kaum perempuan yang tidak sanggup menahan panasnya matahari, menutup bagian wajah dan kepala dengan kain panjang yang membalut tubuh mereka. Sudah dikatakan bukan? Mereka mengenakan baju lebih dari selapis. Apabila berlapis-lapis masih dirasa tidak cukup, maka mereka akan menambahkan kain selendang panjang hingga mampu menutupi kepala hingga bawah pinggang. Kain panjang ini paling sering digunakan oleh para perempuan. Sedikit berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih mempercayai jubah panjang tebal untuk menutup seluruh tubuh mereka dari kepala hingga kaki. Seakan-akan sedikit saja kulit yang tampak itu sudah menjadi hal yang teramat memalukan.

Air-air masih terus dituangkan ke timba sampai penuh bahkan kadang meluap. Tidak ada yang protes atau khawatir akan kehabisan air apalagi orang-orang yang menunggu pada urutan paling belakang. Mereka tetap tenang. Seakan-akan sudah tahu bahwa air di sumur itu tiada mengenal kata habis. Ini sunyi. Betul-betul sunyi. Di hari yang semakin panas, angin hanya datang sesekali. Orang-orang itu masih saja dengan santun dan sabarnya menunggu giliran untuk seember air yang dianggap mujarab dan penangkal terhadap hal jahat. Antrian tidak pernah putus, satu orang pulang, tiga orang kunjung datang. Tetap mereka tanpa kata apapun sampai kemudian jubah salah seorang laki-laki, entah bagaimana ceritanya, jatuh merolot hingga sebatas punggung. Dia mengerang kesakitan. Luka di punggungnya jelas tampak. Borok berwarna merah kecoklatan itu seperti menguap dibakar sinar matahari. Orang-orang lantas saja menutup hidung dan mulut. Para perempuan banyak yang muntah meski sudah coba menahan sebisanya.

Advertisements