Cerpen A Warits Rovi (Jawa Pos, 31 Maret 2019)

Kuda Bersayap ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Kuda Bersayap ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SEBELUM matahari terbit, ketika orang-orang masih mendengkur di dalam tenda, saat daun masih dilumas embun dan jalan masih dirajam senyap, Langkir mengeluarkan kuda putih itu dari kandangnya; berupa sebatang pohon beringin purba, dengan rimbun daun memayungi juntai ratusan akar yang bergelantungan mencium tanah.

Dari lubang pengap di pangkal pohon itu—tepatnya di antara apitan belukar akar-akar raksasa yang meliuk-liuk dan ujungnya menghunjam tanah—kuda itu keluar seraya menguap dan menggeliat, sembari mengedipkan matanya beberapa kali seperti baru bangun tidur, membuka sayapnya perlahan, sebelum akhirnya digosok-gosokkan ke punggungnya yang dingin.

Langkir melempar beberapa bongkah batu ke depan kuda itu. Tak tunggu waktu lama, kuda itu pun langsung menyantapnya dengan lahap. Suara retakan batu di dalam mulutnya seakan sengaja dipermainkan, sebelum benarbenar ditelan, menimbulkan bunyi gleg seperti benda keras jatuh ke dalam air. Setelah itu, Langkir lekas menaiki punggung kudanya. Sejenak tangannya mengusap-usap bulu tebal di leher kuda itu sambil membaca ayat-ayat. Kuda itu tiba-tiba tegak, mengencangkan seluruh ototnya, sepasang matanya lurus menatap arah tujuan, sayapnya direntangkan hingga ujungnya menyentuh rumput basah.

“Bless!!

Sekali kaki belakang menerjang dan sayap berkepak, kuda itu melesat cepat, seperti benda ringan terlempar ke udara. Daun-daun di sekitarnya bergerak-gerak oleh angin yang ditimbulkan kecepatan lesatan itu.

Mubin yang tengah mengintai Langkir, seketika wajahnya di liputi rasa heran, matanya terpaku ke arah kuda terbang itu, yang sudah jauh dan hanya berupa titik kecil di antara sisa cahaya bulan. Jantungnya berdetak kencang. Mulutnya menganga. Ia tak tahu ke mana Langkir, temannya itu, akan pergi.

Saat menoleh ke sekitar, tenda masih sunyi, temantemannya masih lelap setelah semalam menjalani latihan perang. Di ufuk timur, matahari belum terbit. Beberapa kali Mubin melihat kejadian itu, selalu setiap pagi, sebelum matahari terbit. Tapi, ia tidak tahu kapan Langkir pulang dan mengandangkan kudanya kembali ke dalam pohon itu. Hanya, Mubin tak terlalu memikirkan hal itu. Yang jelas, Mubin kini punya satu tontonan ajaib yang harus dirahasiakan kepada siapa pun sebelum dirinya bertanya langsung kepada Langkir. Di sela keheranannya itu, Mubin menduga, yang membuat Langkir selama ini bahagia—meski di arena peperangan sekalipun—karena ia selalu terbang dengan kuda itu setiap pagi, membuang kegelisahan jauh-jauh di datar langit.

Advertisements