Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 31 Maret 2019)

Bayi Malaikat ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Bayi Malaikat ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Pada hari kesebelas kelahiran Nul, orang-orang dusun tahu bahwa perempuan lebih kuat ketimbang laki-laki. Perempuan itu berdiri bagai tebing padas. Angin buruk yang berembus ke dusun tidak mampu menggoyahkannya.

Namun, lelaki itu, ia menarik diri dari dunia. Ia duduk di lincak di bawah pohon mangga. Menatap kosong ke depan, ke arah halaman dan jalan depan rumahnya. Orang-orang, awalnya, selalu menyapanya. Namun, ia membisu. Lalu, orang yang menyapanya semakin berkurang. Dan, pada hari ke de lapan, praktis tak ada lagi yang menyapanya.

Ia duduk diam. Perempuan itu, istrinya, awalnya mencoba membawanya masuk. “Semua akan membaik,” kata perempuan itu. “Kita bisa menghadapinya bersama-sama,” bujuk perempuan itu. “Ayolah masuk, malu sama tetangga,” ujar perempuan itu. Namun, tak satu pun rayuan yang mangkus membuat lelaki itu beranjak. Maka, si perempuan tahu, suaminya telah menyerah.

Dokter terlalu mahal dan posisinya jauh. Puskesmas berjarak dua puluh empat kilo meter dan seseorang mesti menempuh jalan rusak berlumpur untuk sampai ke sana. Namun, di dusun sebelah, ada seorang mantri sepuh yang biasa membantu menangani orang sakit, mulai dari demam hingga penyakit langka di daerah situ macam diabetes.

Menangani persalinan dan khitan (beberapa bocah yang akan dikhitan merasa risih dan malu karena ia seorang perempuan) termasuk keahliannya yang tak perlu diragukan lagi. Si lelaki memanggilnya dan mantri tersebut tiba ketika si perempuan sedang mengerang kesakitan di dipannya yang berbunyi nyaring setiap kali si perempuan menggeliat sehingga si mantri khawatir dipan itu akan segera ambruk.

“Dipan itu kuat,” kata si lelaki memupus kekhawatiran si mantri.

Tiga puluh empat menit setelah kedatangan si mantri, perempuan enam puluh tahunan itu merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Makhluk tak lazim akan segera keluar ke dunia yang fana ini. Kepala bayi itu mulai nongol. Kecil. Terlalu kecil untuk ukuran bayi normal. Jauh terlalu kecil. Hanya setengah kepalan tangan si mantri. Namun, begitu ia menarik kepala tersebut, ia menemukan kesulitan yang luar biasa. Berat. Sulit. Seakan terdapat badan yang besar setelah kepala tersebut.

Advertisements