Cerpen Caroline Wong (Fajar, 31 Maret 2019)

Anak Bulawanan ilustrasi Aan YS - Fajarw.jpg
Anak Bulawanan ilustrasi Aan YS/Fajar 

“Kemarikanlah cinta itu ke bibirku, biar aku minum sedikit. Supaya aku tidak menua dengan cepat.” bisikku dalam hati, dalam doa yang lembut. “Supaya ada semu-semu merah di pipiku.

Supaya aku tidak harus selalu menyuruh angin membelaiku. Supaya aku tidak malu jika berpandang mata dengan lelaki yang kugilai itu.”

Tapi Yasmin tetap mampu membaca semua yang kuucapkan dalam hatiku. Matanya sudah terhunus dan menghakimi wajahku, seketika begitu aku telah membuka mata dan melepaskan tautan kedua belah tanganku.

“Elda, sudah berbusa-busa bibirku mengatakan…becerminlah di kaca lemari Mamak yang besar itu. Kenapa kau masih juga memandangi wajahmu di air sungai? Kau memang bebal dan senang jika aku harus mencemoohmu!” ketusnya dengan kasar.

Yasmin hanya setahun lebih muda dari aku, tapi setahun itu bagaikan terpisah jutaan cahaya. Aku tidak bisa becermin di wajahnya, apalagi dia di wajahku.  Aku bagaikan kutukan nenek sihir bagi kecemerlangan yang dipantulkan rupanya. Demikian pula dia kepadaku. Segala yang jahat dan keramat dari garis darah kami, akulah pasti yang menanggungnya.

Aku terikat berdua saja bersama Yasmin—seperti dayang-dayang dan puteri raja. Mamak sendiri, sudah setahun merantau ke Malaysia. Mamak tergoda gula-gula berhadiah yang dikibar-kibarkan orang-orang muda yang pernah pergi ke sana.

Orang-orang muda itu selalu pulang dengan bukti di jenjang leher, di hampir seluruh jari tangan, di pergelangan tangan, bahkan di pergelangan kaki dan tiga tindikan di lubang telinga. Ranum semarak hingga mata kecilku serasa dipenuhi panen buah mangga yang wangi, berkilau-kilau manis menghirup semua mimpi-mimpi hujan uang di tanah berdebu milik tetangga.

Aku melihat mereka seperti toko emas berjalan. Yasmin melihat wanita jelita yang memeluk lelaki, Mamak melihat apa adanya kenyataan… itu bulawan. Akhirnya Mamak meringankan kaki dan mengumpulkan hatinya yang berserakan.

Advertisements