Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 30-31 Maret 2019)

30 Cerita tentang Jendela di Bukit Tidur ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo-w.jpg
30 Cerita tentang Jendela di Bukit Tidur ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Cerita 1. Jendela itu seakan berdiri di sana sendirian. Bangunannya sudah tak lagi terlihat, hanya tersisa sedikit dinding bata merahnya yang ada di tepi kusen. Dinding itulah yang tampak seperti menahan tegaknya jendela. Namun anehnya, kayu-kayu jendela masih tampak sempurna, sama sekali tak aus termakan cuaca. Kacanya pun masih tampak bening, bahkan pengait kuncinya masih berfungsi baik. Siapa pun yang datang dari arah desa, dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik jendela: langit biru paling cerah.

Cerita 2. Kalau kau ingin melihat satu keajaiban kecil, datanglah ke Bukit Tidur di mana sebuah jendela berdiri sendirian. Datanglah ke sana saat hujan, saat di sekelilingmu dipayungi awan hitam! Lalu, lihatlah apa yang ada di balik jendela itu. Di sana kau akan tetap melihat langit biru paling cerah.

Cerita 3. Sejak dulu, tak ada yang mengenal penghuni rumah di Bukit Tidur itu. Ia datang saat hujan paling deras untuk menemui kepala desa. Ia berniat menyewa Bukit Tidur dengan sepeti uang emas, yang tentu tak mungkin bisa ditolak. Di bukit itu, ia kemudian membangun sebuah rumah yang cukup besar, dan tinggal di sana hanya ditemani seorang pelayan setianya

Cerita 4. Jangan tanyakan kenapa disebut Bukit Tidur! Jawabannya mungkin terdengar tak serius. Tapi, sejak kecil, orang tua kami selalu menceritakan seorang raksasa yang tengah tidur di situ. Bukit itu adalah perutnya yang buncit, dan puncak batu yang menjulang tinggi di dekatnya adalah penisnya.

Cerita 5. Pelayan setia rumah di Bukit Tidur itu bernama Launabrina. Ia yang mengurusi seluruh isi rumah, walau tentu saja tak ada yang terlalu yakin apa benar ia yang mengerjakan seluruhnya. Namun, yang pasti, ia yang membeli semua keperluan pemilik rumah itu di desa. Orang-orang desa selalu bertanya-tanya kepadanya dengan ingin tahu. Sayangnya, Launabrina orang yang tak banyak bicara, sehingga penduduk desa tak mendapat cerita apa-apa darinya.

Cerita 6. Kakekku merupakan salah satu orang yang membangun rumah di Bukit Tidur. Bersama dirinya, ada sekitar 40 orang lain yang bekerja kala itu. Aku ingat satu cerita kakek yang selalu dia ulang-ulang: jendela yang kini berdiri sendirian di bukit itu adalah bagian yang dipasang paling akhir. Kakek dan para tukang lainnya tak pernah tahu dari mana jendela itu berasal. Ia seperti tiba-tiba saja datang di bukit itu.

Advertisements