Cerpen Dadang Ari Murtono (Media Indonesia, 29 Maret 2019)

Menggugat Dewi Sri ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Menggugat Dewi Sri ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

ALI bangun suatu pagi dengan pencerahan yang menyala-nyala di batok kepalanya. Ia buru-buru mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki: kemeja putih lengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Untuk menyempurnakan penampilannya, ia memakai sepatu basket yang ia beli awal Agustus tahun kemarin sebagai persiapan untuk gerak jalan tradisional tujuh kilometer Pandan Pacet.

Ali menyisir rambutnya perlahan, mengoleskan tancho yang bakal membuat rambutnya bergeming meski badai menerpa, dan menyemprotkan bibit minyak wangi yang ia beli di pasar. Dengan penampilan seperti itu, ia lebih terlihat seperti pegawai magang tanpa gaji, tentu saja bila mengabaikan fakta tangan-tangannya yang kasar serta mukanya legamnya yang terbakar sinar Matahari.

Dengan motor bebek butut tahun 1993-nya, ia menerabas 35 kilometer menuju Jalan Majapahit. Di sana, ia pernah melihat kantor pengacara—satu-satunya yang pernah ia saksikan langsung—sewaktu mengantar Mak Yem menjual gelang emas empat bulan lalu.

Di depan kantor dua lantai bercat krem itu, Ali gemetar. Ratusan butir keringat terbit di keningnya yang lebar. Kemeja lengket dan kombinasi bibit minyak wangi serta keringat mulai membuatnya pening.

Ia memarkir motornya begitu saja di depan kantor itu. Tepat pada saat itu, seorang satpam mendekatinya. Satpam itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi, dan mengatakan Ali tidak boleh parkir di situ. Ali gelagapan, namun ia akhirnya bisa menjelaskan maksud kedatangannya. Satpam itu membuktikan kapasitasnya sebagai pegawai teladan. Ia mengarahkan ke mana Ali mesti parkir, lalu mengantarnya ke dalam gedung dan mempertemukannya dengan seorang perempuan yang bibir, baju, dan roknya merah, rambutnya agak kemerah-merahan, dan baunya jauh lebih segar ketimbang si satpam. Begitu segar hingga Ali mengira tengah berada di taman bunga.

“Kebetulan sekali,” kata perempuan itu, “Bapak sedang tidak sibuk dan beliau bisa menemui Anda setengah jam lagi.”

Ali duduk di sofa kulit hitam. Jari-jari tangannya menyusuri permukaan sofa dan ia bersumpah dalam hati tidak pernah menyentuh sofa sehalus itu. Tak lama berselang, seorang perempuan dengan kemeja dan celana biru menyuguhinya sebotol air mineral. Ali mengucapkan terima kasih. Ia yakin, segala kemudahan yang ia dapatkan hari ini ialah pertanda bahwa semesta bersepakat membantunya.

Advertisements