Cerpen Irfan Hasibuan (Analisa, 27 Maret 2019)

Secangkir Kopi Pagi ilustrasi Analisaw.jpg
Secangkir Kopi Pagi ilustrasi Analisa 

SESEKALI kopi itu terserap dari mulutku. melewati tenggorokan di setiap kepahitan hidup masuk ke dalam lambung pencernaan. Dalam benak ada beberapa hal yang membuat pagi ini terasa nikmat. Bukan karena mendung yang datang melainkan dirimu yang hadir dalam segelas kopi saat kau hadir membawa terang.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tadi malam. Padahal waktu itu aku sudah menemukan begitu banyak potret kenangan di kantung saku celanaku. Tapi, dia lebih memilih bungkam dan hanya air mata yang berbicara kepada­ku. Bingung. Kepalaku ditumpuk sekumpulan batu kebingungan saat aku mulai mengalihkan pembicaraan tentang janjinya sewaktu itu.

Dia tetap bungkam. Sementara aku masih berkutat dengan setumpuk foto di atas meja. Satu per satu mataku mene­lu­suri setiap jejak di sekumpulan foto-foto itu. Mencari satu foto yang akan membuat dia berbicara. Selagi aku sibuk mencari, dia melirikku. Memperhatikanku yang sibuk dengan urusannya sendiri. Dia mengusap wajahnya sembari berjalan mennghampiriku.

“Sudahlah. Jangan lagi kau cari kenangan itu. Semuanya percuma saja dan kita tak akan bisa mengulanginya.” Dia berkata lembut sambil menggenggam tanganku.

“Percuma?” dahiku mengkerut, seolah-olah tidak menerima dengan ucapannya.

“Iya, percuma. Semuanya telah berakhir.”

“Dalam kamus hidupku tidak ada kata percuma. Percayalah aku akan menemukan foto itu dan kau akan mempercayai bahwa kenangan itu masih masih ada dalam benakmu.”

“Terserah apa yang mau kau katakan. Tapi, malam ini juga aku pergi. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku.” Dia beranjak dari tempat duduk dan masuk ke dalam kamar.

Mendengar ucapannya tadi, aku buru-buru melangkah di belakang tubuhnya. Aku berusaha menahan dia untuk tidak pergi meninggalkan rumah. dia mengunci pintu kamar sebelum aku berhasil mencegatnya. Sepertinya dia benar-benar sudah membulatkan tekat pergi dari hidupku. Aku bingung harus dengan cara apa bisa mempercayainya bahwa aku ini adalah suaminya.

Advertisements