Cerpen Haidir Muhari (Rakyat Sultra, 25 Maret 2019)

Purnama ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Purnama ilustrasi Rakyat Sultra 

Kisah Tragis

Bagian pertama, 13 April 2017

Langit bersimbah cahaya kala itu. Purnama sedang girang-girangnya menari-nari. Angin sepoi-sepoi bertiup merdu menyentuh kalbu bak seruling nada sunda. Purnama yang merasukkan kekhusyukan kepada setiap jiwa. Tak elak juga aku. Purnama seperti ini adalah saat yang tepat bagi mereka yang meyakini untuk salat sekali dalam seumur hidup dengan hanya satu rakaat. Purnama malam ini begitu indah sebagai akumulasi keindahan, tak pernah aku menyaksikan sebelumnya.

Gadis Tragis itu, gadis bebal kataku. Ia menatapku dalam, merenggut tanganku, menggegam dengan penuh hasrat. Tanpa seizinku, apa-apaan, kataku membatin.

Ia tak hendak melepaskan tanganku. Aku kala itu diam saja. Tetapi tatapannya membuatku masuk dalam suasana syahdu yang teramat. Purnama kali ini, juga gadis bebal ini telah mencipta sejarah yang amat sulit kulupa.

Ia, Gadis Bebal itu mendobrak rasaku yang selama ini bertuan pada benteng kesucian diri. Ia menatapku belum mengungkap sepatah kata pun. Jantungku berdegup tak beraturan, degupannya berlomba, bersahut-sahutan. Tatapannya mulai meneduhkan rasaku, hangat genggam tangannya membuatku larut dalam suasana rileks. Setelah sekitar lima menit lamanya, tangan Gadis Tragis itu memimpin tanganku, ia mulai berkata, “Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku?”

Aku terhenyak, kalut, rasaku bercampur aduk. Gadis Tragis, gadis bebal, benar-benar. Aku menjadi tidak baik. Tak sehelai kata pun terucap dari bibirku. Sentak, tanganku gemetaran, menjulur ke sekujur tubuhku. Gadis bebal ini membuatku tidak baik. Tak kusadari tanganku terlepas dari tangan gadis bebal itu.

 

Namaku Kumala

Bagian kedua, 14 April 2017

Masa laluku adalah kegelapan. Bercokol dalam lumpur nista. Akulah wanita yang disebutnya Gadis Tragis itu. Bukan, namaku Kumala. Gadis tragis, gadis bebal, kalimat terakhir yang kudengar setelah suasana yang cukup syahdu di malam purnama itu. Ia meninggalkanku dalam kesendirian, dan purnama yang indah pun telah beralih menjadi gerhana di hatiku. Kisah purnama itu, akulah yang memulainya.

Advertisements