Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 24 Maret 2019)

Wawamcara Kerja ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Wawancara Kerja ilustrasi Tribun Jabar 

“AGAMAMU apa?”

Aku ingat sekali pertanyaan yang kutemukan dalam wawancara kerja pertamaku. Syok? Tentu saja. Aku tak pernah menduga sama sekali pertanyaan sejenis itu terlontar. Aku sudah bertanya pada hampir semua kerabat dan teman kuliah yang sudah bekerja, apa saja pertanyaan yang biasanya muncul saat kita wawancara kerja. Tak ada yang menyebutkan bagian HRD akan menanyakan agamamu apa.

Aku menelan ludah. Laki-laki dengan wajah bersih, tanpa kumis, sedikit berjenggot itu tersenyum manis. Dia menunggu, sementara aku sibuk memilah jawaban terbaik.

Apa aku harus menjawab langsung atau harus sedikit berdiplomasi? Atau kujawab saja, “Bapak bisa melihatnya di curriculum vitae yang saya lampirkan di berkas lamaran.” Ah, tidak. Kurasa dia sudah membaca berkas itu, tapi bagaimana bisa dia tidak tahu?

Tiba-tiba saja, ada perasaan ingin menjawab pertanyaan itu dengan bait-bait puisi Joko Pinurbo. “Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu.” Bukankah puisi lengah booming dan digandrungi banyak orang setelah seorang tokoh nasional membaca sebuah puisinya dan menjadi viral? Sejak itu orang-orang berbondong-bondong membicarakan puisi, dari yang benar-benar penyair sampai para pengangguran pun mendadak menjadi kritikus puisi. Nah, bisa jadi dia terkesan dengan wawasanku tentang puisi.

Jadi, apa yang harus kujawab? Aku menelan ludah, membasahi kerongkongan yang mulai kesat. Sementara laki-laki di depanku terus tersenyum, menunggu.

“Agamaku A,” aku menjawab apa adanya. Tak ada ide yang melintas. Keterangan itu sudah tercantum di e-KTP yang kulampirkan.

Laki-laki itu meluruskan punggung, dengan tetap tersenyum dia berkata, “Saya sangat tertarik dengan kualifikasi yang kamu miliki.”

Jantungku berdebar lebih kencang. Aku ingin tersenyum, tapi bibirku susah sekali digerakkan.

“Tapi sayangnya, kami belum bisa menerimamu bergabung di sini.”

Seketika aku lemas. Dan tanpa sadar bertanya, “Kenapa?”

Masih dengan tersenyum, laki-laki itu menjawab, “Kami tak bisa bekerja sama dengan seseorang yang memiliki keyakinan berbeda dengan kami. Mohon maaf, ya.”

Advertisements