Cerpen Tin Miswary (Serambi Indonesia, 24 Maret 2019)

Sulu Bayung ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Sulu Bayung ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

AKU terlahir dari keluarga terpandang di kampungku. Ayahku seorang alim lagi masyhur dan ibuku seorang wanita terhormat yang hingga usia tuanya masih terlihat bersemangat mengajarkan anak-anak perempuan mengaji. Konon kakekku juga seorang alim besar yang namanya telah diabadikan menjadi nama masjid di kampung kami.

Sewaktu sebatang kayu bulat panjang yang diyakini jatuh dari langit itu terdampar di Pantai Jangkar, kakekku adalah satu-satunya orang yang berhasil mengangkat kayu yang cukup berat itu. Kakekku mengangat sendiri batang kayu itu dan dibawanya ke kampung kami. Menurut kesaksian ayahku, batang kayu misterius itu sudah terdampar berbulan-bulan di pantai. Bahkan tidak seorang pun mampu menggesernya ke tepi sampai akhirnya kakekku muncul.

Sejak pertama ditemukan kayu itu telah terukir kaligrafi yang cukup panjang. Ukiran itu menggunakan khat unik yang tak mampu dibaca oleh orang-orang kampung kami. Tapi kakekku yakin ukiran itu adalah tulisan kalimat syahadat.

Orang-orang kampung kami, tak terkecuali kakekku meyakini kayu itu jatuh dari langit pada malam bulan Ramadan. Karenanya kayu itu pun dianggap keramat. Cerita tentang keramatnya kayu ini juga dikuatkan oleh kesaksian seorang nelayan kepada kakekku, kemudian cerita itu diwariskan pada ayahku.

“Malam itu tak seekor ikan pun masuk perangkapku. Akhirnya aku pun mengutuk laut yang tak memberiku rezeki malam itu. Kemarahanku cukup berasalan, sebab tanpa ikan-ikan itu aku tidak akan mampu membayar sewa perahu kepada Toke Min yang memang tak pernah mau mengerti nasib orang-orang macam kami. Ketika gelombang menghantam perahuku yang masih kosong, tiba-tiba aku melihat sebatang kayu terombang-ambing di tengah lautan. Aku pun mencoba mengayuh merapatkan perahuku ke sana. Entah kenapa tiba-tiba saja aku yakin di sini ada ikan. Kulempar jala. Dan, laut telah berbaik hati padaku. Setelah perahuku terasa berat aku pun menuju pantai. Aku terkejut ketika melihat kayu itu sudah terdampar di sana,” tutur ayahku mengulang cerita kakek dari si nelayan.

Setiba di kampung kayu itu pun dijadikan tiang tengah dalam bangunan masjid kecil kampung kami. Kakekku yang saat itu menjabat sebagai imam besar masjid menamai kayu itu dengan Sulu Bayung. Setelah kakekku meninggal masjid itu dinamai sebagai masjid Imum Sulu Bayung, untuk mengenang jasa kakekku yang telah membawa kayu itu ke kampung kami.

Advertisements