Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Radar Banyuwangi, 24 Maret 2019)

Perempuan Kemarau Pembawa Rantang ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Perempuan Kemarau Pembawa Rantang ilustrasi Radar Banyuwangi 

KAU masih ingat kapan pertama kali perempuan itu datang padamu membawa rantang yang berisi makanan. Dulu, saat musim kemarau datang. Ya, saat musim kemarau datang. Pertemuan itu terjadi begitu alami, sealami kemunculan embun di saat matahari muncul.

Ia datang ke halaman rumahmu, ke pelataranmu—tempat menjemur batu-bata yang masih berwujud tanah liat basah—menghampirimu yang sedang mencetak tanah liat menggunakan sebuah alat. Lalu kau menghentikan pekerjaanmu. Ia bilang hari ini sedang ada rezeki, dan ingin berbagi padamu. Pada awalnya kau agak ragu-ragu menerima rantang yang diulurkan. Namun setelah terus didesak, kau menerima.

Ia memperkenalkan diri sebagai Nariratih. Kau serius menyimak saat ia menjelaskan asal-usulnya. Kau sedikit terkejut, perempuan yang berdiri di hadapanmu ternyata berasal dari kemarau, berasal dalam artian ia terbuat dari kemarau. Ia tidak mempunyai tempat tinggal, sebab kemarau bukanlah makhluk yang memerlukan tempat berteduh.

Kau berbincang lumayan memakan waktu. Sampai kemudian ia meminta maaf padamu karena telah mengganggu waktumu, bekerjamu. Ia pun pamit pergi. Kau tahu kenapa ia lebih memilih kata pergi, bukan pulang.

Sebelum ia melangkah, kau sempat menyuruh untuk menunggu sejenak, karena kau akan memindahkan makanan yang ada di rantang ke piring-piring di rumahmu. Ia berujar, “tidak perlu dipindah sekarang, besok aku akan kembali untuk mengambil rantingnya” .

Seperginya perempuan itu, kau melanjutkan mencetak tanah liat. Tak ada pertanyaan di benakmu sama sekali, perihal bagaimana proses pembentukan perempuan itu dari kemarau, seolah-olah itu sebuah kewajaran—rasa terkejutmu itu sekadar terkejut tanpa mengandung penasaran akan hal itu. Yang ada di rongga kepalamu hanyalah wajahnya yang cantik.

“Ckckck, cantiknya. Sudah jarang perempuan cantik dan berpakaian rapi di zaman sekarang yang tidak gengsi berdekatan dengan orang sepertiku,” ucapmu, tersenyumsenyum sendiri. Tanganmu berlepotan tanah liat.

Advertisements