Cerpen Riyan Prasetio (Singgalang, 24 Maret 2019)

Mayat yang Tergeletak di Pematang ilustrasi Singgalang.jpg
Mayat yang Tergeletak di Pematang ilustrasi Singgalang 

Seperti pagi-pagi biasanya, usai melaksanakan salat subuh berjemaah dan mencecap segelas kopi hitam tanpa gula ditambah sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap buatan istrinya, bertolaklah Karmin ke parak miliknya yang sedang ditanami jagung manis kualitas super yang bibitnya dibeli langsung dari kota. Dia sungguh gembira dan memang sudah sepatutnya bibirnya mengulum senyum. Sebentar lagi buah-buah jagung di paraknya akan segera dipanen. Terbayang olehnya lembaran rupiah menari-nari dengan liar dalam benaknya. Menurutkan hawa nafsunya mulai mengabsen beberapa nama barang yang hendak dibelinya setelah berhasil memanen jagung-jagung miliknya itu.

“Bapak berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsallam, hati-hati di jalan, Pak,” pekik Marni dari arah dapur.

Mulutnya sibuk meniup corong bambu supaya api di tungku yang digunakannya menanak nasi dengan periuk tetap stabil nyala panasnya. Tak jarang saking semangatnya meniup, abu-abu panas beterbangan dan mengenai beberapa helai rambutnya yang tak lagi sepenuhnya hitam dan tetaplah panjang tergerai begitu saja.  Karmin sempat mengintip bungsunya yang masih bergelung di balik sarung kumalnya. Dia menghela napas dalam-dalam. Sedikit kecewa karena bungsunya tidak mewarisi sifatnya yang rajin bangun pagi. Berbeda dengan sulung dan anak keduanya yang mewarisi kebiasaannya bangun pagi buta sekali. Jauh-jauh waktu sebelum kokok ayam terdengar lantang, memekakkan telinga. Karmin dan istri bukannya tidak mengajarkan kebiasaan bangun pagi kepada bungsunya. Hanya saja setiap kali si bungsu bangun pagi, ke esokan paginya demam datang melanda si bungsu. Seminggu penuh dengan keadaan tubuh yang memprihatinkan sama sekali. Sejak saat itu Karmin dan juga istrinya tak pernah lagi memaksa si bungsu bangun lebih awal.

Semburat kemerahan belumlah muncul sama sekali di ufuk timur sewaktu Karmin melewati jalan yang di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon karet dengan suburnya. Seketika kilat matanya menyala. Menatap sorot cahaya dari kegelapan yang teramat pekat dari balik-balik pohon karet. Sudah biasa penduduk dusun mendapati orang-orang yang punya kebun karet pergi menyadap karet mereka jauh sebelum semburat kemerahan menerangi bumi.

Advertisements