Cerpen Wawan Kurniawan (Kompas, 24 Maret 2019)

Kematian Seorang Penerjemah ilustrasi Nyoman Sujana Kenyem - Kompas.jpg
Kematian Seorang Penerjemah ilustrasi Nyoman Sujana Kenyem/Kompas 

Dia tidak akan meneguk racun itu bila peristiwa kemarin tak terjadi. Seminggu sebelumnya, di dalam mimpinya seorang perempuan berbaju merah dengan rambut panjang sebahu datang menghampirinya di sebuah tepi pantai yang asing baginya. Tanpa sempat melihat wajahnya dengan jelas, perempuan itu langsung memeluknya dari belakang. Begitu erat hingga tulang-tulangnya serasa ingin remuk.

Saat mendengar bunyi retak disertai kesakitan yang tak terkira, barulah dia terbangun.

Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh dua menit. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Dia putuskan untuk kembali memejamkan mata dan sama sekali tak mengingat apa yang terjadi di mimpinya. Tapi rasa sakit di bagian belakangnya terasa hingga dia harus beberapa kali mengubah posisi tidurnya.

Dia berhasil tidur dan bangun pada pukul sepuluh pagi. Biasanya, dia bangun di siang hari setelah begadang menerjemahkan beberapa naskah yang ada di laptopnya.

Rasa sakit di bagian belakangnya, membuat dia bangun lebih pagi. Meskipun tidurnya sudah terganggu saat dini hari. Dia mencoba mencari kemungkinan penyebab sakit itu.

“Mungkin posisi tidur saya yang bermasalah.”

“Tunggu, mungkin juga karena terlalu lama duduk bekerja.”

“Tidak, sepertinya karena semalam saya kurang minum air.”

Di antara kemungkinan yang dia pikirkan, tak sedikit pun terbesit di kepalanya tentang mimpi itu.

Sembari memikirkan sakitnya, dia teringat janjinya pada Eka, pemilik penerbit yang hendak mencetak terjemahannya. Sudah dua kali dia meminta perpanjangan waktu untuk membuat terjemahannya semakin matang. Enam hari lagi tenggat waktu itu pun akan berakhir. Dia juga tak ingin meminta perpanjangan lagi, tapi di sisi lain, dia masih merasa belum selesai dengan terjemahannya itu.

Dengan melawan rasa sakit di bagian belakang tubuhnya, dia berjalan pelan menuju kamar mandi sambil berpegang pada dinding rumahnya. Langkahnya persis seperti seorang lelaki tua yang kehilangan tongkat. Satu tangannya di dinding, yang satunya lagi di belakang—memijit bagian pinggangnya sendiri.

Advertisements