Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 24 Maret 2019)

Hikayat Ular dalam Mimpi Pemuda Samin ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Hikayat Ular dalam Mimpi Pemuda Samin ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Entah angin apa yang menuntun Samin mendatangi kediaman Bakar siang itu. Saat dia datang, di beranda rumah itu sedang berkumpul puluhan orang. Mereka terlihat sangat serius. Pokok obrolan mereka menyoal rencana menyulap hutan Kemuning menjadi tambang batubara. Ketika Samin tiba, orang-orang itu serentak berhenti berbicara. Semua mata tertuju padanya.

“Aku datang membawa pesan,” kata Samin, gemetar dan tergagap-gagap ketika Bakar bertanya maksud kedatangannya.

“Pesan?” mata Bakar menyipit. “Pesan dari siapa, Samin?”

“Dari Puyang Teduang Berampo.”

Mendengar jawaban itu, Bakar diam, mukanya merah menahan tawa. Dia berjalan menghampiri Samin yang tegak di langkan beranda. “Kau tahu mengapa orang-orang di kampung ini memangilmu Samin?” tanyanya sambil mendorong bahu Samin.

Samin menggeleng. “Tidak. Aku tidak tahu,” jawabnya lugu.

“Samin itu artinya dungu,” jawab Bakar disusul tawa meledak dari mulutnya. “Kau memang cocok menyandang nama itu. Cocok sekali.”

Perkataan Bakar memancing tawa panjang orang-orang. Samin menunduk malu. Di dalam hati dia mengeluh, lancung betul lidah Bakar menghina dirinya. Namun, Samin memilih diam saja. Dia kehabisan kata.

Tadi malam, sebelum Samin terjaga dengan sekujur badan bersimbah peluh, dia mendapat mimpi. Di dalam mimpinya dia melihat ribuan ular keluar dari sebuah lubang, salah satu dari ular itu berkata, “Sampaikanlah pesanku pada Bakar bin Matsen. Jangan mengusik rumah kami. Jika dia tetap memaksa, maka dia akan celaka.”

Begitulah pesan yang hendak disampaikan Samin, tetapi sayangnya Bakar sudah kadung mengusirnya. Orang-orang yang berkumpul itu juga memandangi Samin dengan sorot mata kurang nyaman. Seolah-olah kehadirannya di sana membawa seonggok bangkai yang menguarkan aroma yang membuat perut mereka mendidih mual. “Pergilah,” ucap Bakar melembutkan suaranya. Dirangkulnya bahu Samin, lalu menuntunnya ke luar pagar.

Apabila gayung dilempar tiada bersambut, niat baik ditanggapi buruk, maka berlepas dirilah Samin dari padanya. Amanat yang diembannya sudah disampaikan baik-baik. Dia meninggalkan kediaman Bakar tanpa beban, diiringi gumam panjang orang-orang.

***

Advertisements