Cerpen Yus R. Ismail (Kedaulatan Rakyat, 24 Maret 2019)

Di Taman Kota ilustrasi Joko Santosow.jpg
Di Taman Kota ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEPERTI biasa, Jumat pagi saya menghentikan angkot di depan taman kota. Mestinya saya sudah di kantor sekarang. Tapi sudah izin dari kemarin kepada Adri, atasan yang sebenarnya sahabat saya sejak kecil. Izin bahwa kerja pagi saya diganti mulai bakda jumatan saja.

Belum semenit saya duduk di bangku taman, saya dikejutkan oleh seseorang yang menghampiri dan duduk di sebelah saya.

“Halo, Bro. Apa kabar? Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” katanya sambil mengajak bersalaman.

“Alhamdulillah, baik,” jawab saya sambil mengingat-ingat.

“Haha… pasti sibuk bertanya-tanya: siapa saya? Ya, kan? Pasti lupa, kan? Ini ada tandanya. Permainan masa kecil, main bola di sawah. Lalu mandi di sungai. Lalu….”

“Lalu ke kebun Wak Dullah?”

“Dan kamu mencuri mangga!”

Saya terkejut. Kok, yang diingatnya mencuri mangga? Saya jadi ingat, bukan hanya mencuri mangga, tapi mencuri jeruk juga, mencuri ikan juga, mencuri telur ayam juga… ah, ternyata begitu banyak yang pernah saya curi tapi selalu menganggapnya itu kenakalan masa kecil.

“Makanya, jangan sok baik! Kok, susah banget memaafkan orang yang nyata-nyata mau meminta maaf!”

“Maksudnya?”

“Saya lihat kamu masih hobi demonstrasi. Hobi, kan? Kamu mendemo penghina agama. Lalu begitu heroik bilang, yang tidak ikut demo itu kafir! Yang tidak sependapat bahwa itu penghina agama adalah kafir! Sementara bertahun-tahun kamu melecehkan agamamu sendiri, kamu diam saja. Kamu itu baru bisa membaca Al-Qur’an terbata-bata, tanpa membaca artinya, tanpa membaca tafsirnya, tanpa tahu asbabunnuzulnya, tanpa merenungkan isinya! Makanya kamu eksklusif, tidak bermasyarakat, tidak peduli lingkungan, kamu lebih galak daripada anjing pemburu! Bila dipercaya kamu juga berkhianat, korupsi!”

Rasanya saya semakin mengenal orang yang bicara seperti itu.

Advertisements