Cerpen Nugroho Suksmanto (Suara Merdeka, 24 Maret 2019)

Cinta Laura ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Cinta Laura ilustrasi Suara Merdeka

“Make a wish!” Rico menyeru Laura, ketika nyanyian ulang tahun berakhir ceria membahana.

Mendengar seruan itu, para waiter Restoran Altitude yang berdiri mengelilingi menyurut, pergi.

“Hmm, tak terasa 32 helai umurku tercabut hari ini,” keluh Laura.

“Aku mencintaimu, Laura. Sangat!” Rico mengecup kening Laura semesra kecupan Leonardo Di Caprio kepada Kate Winslet. Namun Rico tentu tak membayangkan kapal Titanic tenggelam pada puncak kemesraan mereka.

“Terima kacih,” sambut Laura manja.

Kue telah terpotong. Laura mengangkat dan siap mengucap keinginan. Namun tiba-tiba air matanya menetes, menggelincir ke pipi.

Rico yang menganggap haru kebahagiaan menyelimuti Laura, menyambut potongan kue dengan senyuman. Dia usap air mata Laura dengan selembar tisu. Lembut, penuh pengertian.

Sejenak Laura terdiam, belum mampu berkata-kata. Rico penasaran. “Apa keinginanmu?”

Api di jambang meja tempat mereka bercengkerama jadi saksi ketegangan wajah Laura. “Maafkan aku, Rico,” ujar Laura, lalu terdiam lagi.

“Kenapa, Beib?” Rico menyampaikan rayuan iba.

Laura menatap tajam wajah Rico. “Rico, menikahlah dengan Tasya!”

Rico terkesiap. Dia tak menyangka kalimat itu meluncur dari mulut Laura, saat membayangkan langkah menyingkirkan segala rintangan bagi pernikahan mereka.

“Kamu bercanda, Beib?”

“Tidak, Rico. Aku serius. Inilah akhir cinta kita yang kuinginkan. Ini untuk kebahagiaan kamu, orang tuamu, serta Oma. Lebih dari itu, untuk kebahagiaan sahabatku, Tasya.

“Aku telah bertemu mamamu. Berdua dari hati ke hati, kami lama berbincang. Mamamu dengan bijak dan jujur, beserta permohonan maaf, meminta aku mundur dari kehidupan kamu. Meminta aku tak melanjutkan jalinan cinta kita ke pelaminan.

Advertisements