Cerpen Is’adur Rofiq (Rakyat Sumbar, 23-24 Maret 2019)

Bukan Kita yang Mengakhiri ilustrasi Istimewa
Bukan Kita yang Mengakhiri ilustrasi Istimewa

Hujan sepertinya sudah reda, aku hendak pulang dan meninggalkan masjid. Seperti biasa, di rumah sudah ditunggu laptop yang sejak kemarin belum aku sentuh. Kerinduan akan diksi yang aku tulis segera terbayar dengan suara risih keyboard. Di teras rumah. Entah apa yang akan aku tulis, tiba-tiba lamunan membawaku pada suatu kisah masa lalu yang kelam. Sampai saat ini aku belum percaya mengapa kisah itu selalu hadir ditengah pikiranku yang sedang merangkai diksi-diksi tulisan.

***

Sebuah kisah masa lalu dimulai!

Sudah beberapa hari ini aku jadi pengangguran setelah resmi menanggalkan status mahasiswa. Tuntutan moral agar bisa bekerja disuatu perusahaan yang linier dengan bidang jurusanku tak bisa dielakkan.

Pagi ini rasanya cerah sekali, aku bergegas pergi ke suatu kantor perusahaan besar di kota ini. Menurut surat kabar kemarin, perusahaan tersebut akan menerima karyawan baru di posisi konsultan proyek. Dengan semangat, setiap langkahku disertai doa agar bisa diterima.

Di depan pintu, aku disambut resepsionis cantik dengan rambut terurai panjang.

“Ada yang bisa aku bantu bapak?” ujarnya dengan senyum ramah.

“Apakah betul perusahaan ini akan menerima karyawan diposisi konsultan proyek?” tanyaku.

“Betul pak, silahkan menemui direktur perusahaan di ruang 10 lantai 2,” jawabnya.

“Terimaksih banyak.” Ujarku sambil bergegas ke ruangan direktur perusahaan.

Saat sampai di depan ruangan direktur, ternyata sudah banyak yang mengantri. Aku harus bersabar duduk di paling belakang. Satu jam berlalu duduk di sofa ruang tunggu, rasanya mata ini ingin terpejam meskipun sebentar.

“Fejri silahkan masuk!” Ajudan direktur berseru yang membuyarkan kantukku.

Aku bergegas masuk.

Tanpa bicara satu katapun, direktur meminta kelengkapan administrasi yang aku bawa.

“Dengan siapa kamu datang kesini?” Ia memulai percakapan.

“Sendiri saja, Ibu.”