Cerpen Angga T Sanjaya (Kabar Madura, 18 Maret 2019)

Musim Hujan dan Kematian ilustrasi Istimewa.jpg
Musim Hujan dan Kematian ilustrasi Istimewa 

Gemuruh, dan degub-degub hujan di jantungku kian berkecamuk. Membikin gelombang petir dan badai mengamuk. Sekian kisah yang menyisakan luka ingatan, mendesir bersama kecipak air. Hanya benang-benang hujan yang menyerupai harapan, tak pernah usai, untukku.

LALU hujan yang resah turun samar-samar dan tipis-tipis itu, hujan yang bergetar kedinginan di pucuk pepohonan juga dedaunan, menandai dimulai kisahku.

Senja ini, setelah kemarau panjang menggerus musim. Langit menjadi sekelam arakan mendung yang mendiami cuaca. Udara memberat, mengalir gerimis yang menyendiri. Angin bergerak resah, membawa separuh dingin musim penghujan yang terlambat datang. Lalu suasana menjadi begitu lengang, kecipak air yang mengisi diam sesekali mengungkap sepi.

Aku menelan tiap peristiwa bagai sekian jilatan laut di pasir pantai yang meninggalkan luka.

Perempuan itu, perempuan yang berambut panjang, berwajah oriental, dan lesung pipi yang tibatiba ada ketika sebuah senyum mengembang. Atau alis yang menyerupai dua jembatan yang tak pernah tersatukan. Atau ujung hidung yang menjadi merah sembab ketika menangisi sesuatu, atau bahkan mata yang tak pernah terbuka ketika mentertawai sesuatu, juga mentertawaiku. Ah, bukankah aku begitu hafal terhadapnya, bukankah aku begitu mengenal apa yang ada. Bahkan tahi lalat yang menempel di pundaknya, bahkan tanda lahir yang membekas di atas payudaranya. Bukankah aku begitu mengenalnya?

Perempuan itu adalah istriku, yang tengah berjalan sendiri melewati lengang, melewati lorong panjang. Melewati jalan yang bahkan akupun tak pernah tahu ke mana arahnya, ke mana muara yang akan ditujunya.

Musim hujan, yang selalu datang menemui babak baru. Mengisi ruas-ruas keresahan dan luka kemarau. Menjadi mendung, menjadi selimut langit, menjadi bulir-bulir air mengigilkan dedaunan. Hingga mengisi seluruh kerontang tanah kehidupan. Hujan selalu menemui babak baru, yang kunantikan juga dinantikan banyak orang. Hujan yang datang memberkati harapan.

Aku selalu menunggu hujan. Menunggu hujan memberkati tanah kerontang. Memberkati harapan. Hujan yang memberkati kami semua.

***