Cerpen Zainul Muttaqin (Radar Selatan, 18 Maret 2019)

Laki-Laki Tanpa Tangan ilustrasi JEAN-MICHEL BASQUIAT, KRONG THIP (TORSO)w.jpg
Laki-Laki Tanpa Tangan ilustrasi JEAN-MICHEL BASQUIAT, KRONG THIP (TORSO)

Dengan terengah-engah, lirih suaranya bercampur derai tangis, Simar berujar pada suaminya, sembari memegang pipi bekas ditampar laki-laki di depannya itu, “Sebaiknya kita bercerai saja.” Gerimis serupa helai-helai rambut jatuh dari langit yang membentang warna abu-abu pucat. Dingin pagi menghunus setiap inci kulit.

“Cerai hanya bisa diucap seorang suami. Bukan istri!” terdengar lantang suara Maksan, suaminya itu. Ia memandang wajah istrinya, pada kerut-kerut yang meliuk terombang-ambing di dahi Simar.

“Kalau begitu, ceraikan aku,” kata Simar sambil mengelap sisa air mata di pipi tirusnya. Air matanya sudah habis terkuras sejak tiga puluh menit yang lalu. Tirai jendela disingkap oleh tiupan angin.

“Tidak mungkin. Karena aku mencintaimu.” Laki-laki paruh baya itu berniat memeluk istrinya. Hanya saja Simar tak mau dipeluk olehnya, sebab tangan yang dulu membopongnya ke atas ranjang di malam pertama sudah berkali-kali mendarat di pipinya setiap amarah Maksan meledak.

“Omong kosong! Suami yang selalu bicara dengan tangannya masih bisa bilang cinta. Apa itu bukan bualan belaka? Hah!” Jarum jam bergeser di atas kepalanya. Sorot mata Simar tajam dan dalam. Degup jantungnya berdetak lebih kencang dari yang semestinya. Maksan diam beberapa jenak, seperti ada rasa sesal menyelinap ke dalam lubuk hatinya.

Beberapa bulan terakhir ini Maksan memang menunjukkan gelagat tak wajar. Laki-laki setengah baya itu selalu menggampar istrinya, hampir setiap hari, setiap Simar melakukan kesalahan, yang sesungguhnya sepele. Berusaha tegar menghadapi situasi rumit semacam ini membuat Simar kerap mengalah, mengelus dada atas laku suaminya belakangan.

Hingga kini perempuan itu tak lagi sanggup menanggung tingkah pola suaminya yang melampaui batas. Belum sembuh memar di pipinya, suaminya kembali membuat pipi yang mulanya bening serupa telaga kembali membiru oleh tamparan laki-laki bertubuh kekar itu. Setelah dipikir matang-matang, Simar memutuskan minta cerai, sekalipun ia tahu perbuatan itu seburuk-buruknya tindakan dalam rumah tangga.

Advertisements