Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 17 Maret 2019)

Semangkuk Perpisahan di Meja Makan ilustrasi Yuswantoro Adi - Kompasw.jpg
Semangkuk Perpisahan di Meja Makan ilustrasi Yuswantoro Adi/Kompas

Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan.

Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk mcmbuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala?

Bukan. Bukan saya tidak pernah memasak sama sekali. Saya pernah merebus mi instan, menggoreng telur, atau beberapa hal lain untuk bertahan hidup. Lebih-lebih ketika masih mahasiswa dulu. Tapi ini berbeda. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa.

Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa. Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya.

“Ambil libur dua hari apa tidak bisa sama sekali?” desaknya di ujung telepon.

Saya menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu menelepon lagi untuk kesekian kali.

“Susah, Ibu. Saya punya jadwal bedah sesar setidaknya sampai akhir tahun ini. Apalagi menjelang hari raya, selain musim hujan, juga musim orang melahirkan.”

Saya dapat mendengar embusan napas ibu di sana. Suaranya terlalu kentara untuk ruang operasi yang hening dan sepi.

“Apa yang bisa memastikan nyawa anak manusia sampai dengan baik ke dunia hanya kamu?” sindir Ibu terkesan tajam.

“Ya tidak,” jawab saya sembari membuka penutup sampah dan melempar sarung tangan karet itu ke dalamnya.

“Berapa dokter kandungan di rumah sakitmu?”

“Tiga.”

Advertisements