Cerpen Nilla A Asrudian (Suara Merdeka, 17 Maret 2019)

Sebuah Cara Jitu Menghapus Kelaparan dan Kemiskinan ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdekaw.jpg
Sebuah Cara Jitu Menghapus Kelaparan dan Kemiskinan ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Sudah satu minggu Tuan Kuasa tidak bisa tidur nyenyak. Saat malam tiba, rasa cemas memakan kantuknya, mengganti dengan penglihatan berulang akan bara, api, mulut-mulut manusia yang meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.

Siang hari, rasa letih dan putus asa mendera. Di antara mata yang setengah membuka dan pikiran setengah sadar, ia terus teringat percakapan dengan Bapak Suci, lelaki tua agung yang bertugas memberi nasihat bijak tentang kehidupan bumi dan Langit.

Saat itu ia sedang mengunjungi Kuil Putih, tempat di puncak gunung tertinggi, yang dipersiapkan untuk upacara memuja Langit. Seperti biasa, seusai melakukan ritual Langit, Tuan Kuasa duduk berbincang dengan Bapak Suci.

Percakapan mereka hangat dan pribadi. Hanya ada mereka berdua, teh panas dan penganan di atas pinggan, serta kesunyian yang menggigit.

Tuan Kuasa ingat, sebelum percakapan itu terjadi, mereka tekun memandang lekuk desa dan kota yang kerdil di kejauhan.

“Pembangunan tampaknya berjalan lancar,” suara Bapak Suci memecah sunyi.

“Ya, begitulah. Kehendak Langit memudahkan semua upaya saya membangun negeri ini,” timpal Tuan Kuasa. Ia mencoba merendah, tetapi nada jemawa tak bisa disembunyikan dari kalimatnya.

Bapak Suci tersenyum, mengangguk.

“Akhirnya saya bisa membawa negeri ini ke keadaan aman, damai, dan tenteram,” tambah Tuan Kuasa.

Lagi-lagi Bapak Suci tersenyum, mengangguk.

“Oh ya, Bapak Suci, katakan kepada saya, apakah saya pemimpin yang baik? Saya sudah tak muda lagi dan akhir-akhir ini mulai mengingat mati. Jika Langit menghendaki saya mati, apakah Langit menerima saya dan menempatkan saya di surga?”

Hening.

Bapak Suci terdiam. Senyumnya samar, lalu pelan-pelan menghilang.

“Kenapa diam, Bapak Suci? Katakanlah sejujurnya,” suara Tuan Kuasa terdengar gusar.

Advertisements