Cerpen Ken Hanggara (Jawa Pos, 17 Maret 2019)

Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

AKU ingin makan, tetapi tidak punya uang. Jadi, kuminta uang kepada semua orang di pasar. Setiap kutemui punggung seseorang, aku berdoa supaya hati orang itu diketuk sedemikian rupa oleh-Nya sehingga membantuku yang sedang kelaparan. Lalu kutepuk punggung itu dan dengan wajah memelas kukatakan kalimat ini dengan begitu syahdu, “Minta uang dong.”

Aku tahu, mungkin jika tidak makan hari ini aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini.

Sulit membayangkan akan mati seperti apa dan di mana jika Anda hidup sebatang kara di suatu pasar, dan bermata juling, dan berotak separuh sapi, dan berbadan sebesar badak. Itulah aku, dengan segala ciriku. Hidup sendiri di pasar, pindah dari satu kota ke kota lain, hanya untuk makan.

Seharusnya orang kasihan kepadaku dengan mata julingku yang sulit membuatku bekerja di mana pun. Aku gampang lelah dan tidak beres menggarap hampir semua hal. Misalnya, aku tidak bisa menghitung dengan pas dan mungkin juga tidak dapat bekerja di tempat fotokopian dengan tugas memencet-mencet tombol mesin fotokopi.

Aku sering membatin bahwa mungkin Tuhan menciptakanku untuk ini; terkadang beberapa hal sulit diterima, tetapi kuyakin memang begitulah adanya, yaitu aku dicipta sebagai sarana manusia lain menuju surga. Aku didesain Tuhan menjadi pengemis yang dapat membangkitkan gairah kemanusiaan orang-orang. Aku dirancang sedemikian rupa oleh-Nya agar orang-orang tidak lupa sedekah. Jika sudah begitu, surga bakalan mereka dapat.

Memang seharusnya orang berpikir begitu, mengingat betapa melas wajahku saat berkata, “Minta uang dong.”

Biasanya kulengkapi kernyitan di dahi, lalu pada pipiku harus ada beberapa bercak kotoran. Aku tidak mandi atau cuci muka sebelum mengerjakan ini, demi orisinalitas dan bukan semacam tipuan. Aku tidak perlu membuat luka-luka palsu untuk menarik simpati; cukup wajah gembilku saja yang natural, yang kubuat semelas dan semalang mungkin, seakan tidak makan kira-kira dua tahun berturut-turut. Kukira, itu jauh lebih ampuh.

Advertisements