Cerpen Ade Ubaidil (Media Indonesia, 17 Maret 2019)

Narayya dari Moor ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Narayya dari Moor ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

ANGIN gurun berkesiur pada telinga Naseer. Matanya lekas terbelalak, memastikan sekitar tempatnya bersembunyi aman dari kejaran musuh. Langit masih gelap. Napasnya perlahan ia atur. Nyeri di paha dan punggungnya terasa lagi. Lelap dan kantuknya hilang seketika. Darah yang mengucur di kakinya mulai melambat. Kain putih yang diikatkan oleh Narayya bekerja sebagaimana mestinya. Meski malam, ia bisa memastikan kain itu telah berubah warna menjadi merah legam.

Naseer perlahan bangkit. Ia ingin memastikan apakah Narayya sudah terjaga. Agak pincang, kakinya membawa ia ke sebuah goa kecil, tempat Narayya merebah lelah. Sebelum ia betul-batul masuk, pandangan ibanya sekali lagi ia tujukan pada kuda hitam yang membawa mereka berdua sampai ke sana. Luka akibat lemparan panah dan tombak tak sedikit menggores di tubuhnya. Namun, ia yakin, kuda kesayangannya itu kuat. Ramuan tumbuhan yang dibuat Narayya sepertinya cukup ampuh sebab jelas sekali kuda itu tenang, tidak lagi meringkik dan merintih.

Di dalam goa lumayan terang. Nyala obor masih bertahan walau hanya tersisa satu. Tiga yang lain telah padam. Perasaannya mulai sedikit khawatir. Sorot matanya kembali awas melihat ke sekeliling. Gegas ia memacu langkahnya. Tepat ketika ia menoleh ke arah kiri, Narayya tidak ada di tempatnya. Ia yakin betul perempuan dari kerajaan Moor itu ada di sana dan ia yang memintanya untuk masuk ke dalam goa dan rehat di ruang sempit itu. Naseer merasa kecolongan! Padahal ia pikir tidak lelap-lelap amat sewaktu berjaga di luar. Kalaupun ada seseorang yang masuk, kuda hitamku pasti akan meringkik, lebih-lebih pada orang asing yang tak dikenalnya, pikir Naseer. Akan tetapi, mengingat kudanya ia malah tercekat untuk beberapa saat. Kuda? Kudaku!

Dugaannya benar. Kuda hitam, tinggi, dan penuh luka itu, telah mati. Naseer mengutuki dirinya sendiri. Ia melepas tudung dan jubahnya lalu ia hempaskan ke hamparan pasir. Tidak ada suara selain angin yang berkesiur masuk ke rongga-rongga bebatuan goa. Angin gurun menerbangkan pasir-pasir halus ke udara, mengabarkan pada langit aroma anyir kematian. Naseer pikir kuda itu hanya sedang tertidur lelap. Sejak mula memang kuda itu merebahkan tubuhnya dengan kepala menyentuh tanah. Namun, entah bagaimana caranya, mulut kuda miliknya menyisakan bau racun, dan leher sebelah kanannya robek oleh sayatan pedang. Pasir di bawah kepalanya cekung dan ada kubangan darah. Aku benar-benar lengah! Kesatria payah! Pecundang gurun!

Advertisements