Cerpen Dadang Ari Murtono (Solo Pos, 17 Maret 2019)

Membawa Dewi Sri ke Pengadilan ilustrasi Solo Posw.jpg
Membawa Dewi Sri ke Pengadilan ilustrasi Solo Pos 

Ali bangun suatu pagi dengan pencerahan yang menyala-nyala di batok kepalanya. Ia buru-buru mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki: kemeja putih lengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Garis bekas lipatan kemeja dan celana itu terlihat jelas berkat seterikaan yang mengikuti pola lipatan tersebut. Untuk menyempurnakan penampilannya, ia memakai sepatu basket yang dibeli awal Agustus tahun kemarin sebagai persiapan untuk berpartisipasi dalam gerak jalan tradisional tujuh kilometer Pandan Pacet.

Ia menyisir rambutnya pelan-pelan, mengoleskan tancho yang bakal membuat rambutnya tak berubah tatanan meski badai menerpa, dan menyemprotkan bibit minyak wangi yang ia beli dari pasar dan biasanya ia gunakan setiap berangkat Salat Jumat. Dengan penampilan seperti itu, ia sesungguhnya lebih terlihat seperti seorang pegawai magang tanpa gaji, tentu saja bila mengabaikan fakta bahwa tangan-tangannya kasar dan penuh kapal serta mukanya legam dan keras terbakar sinar matahari. Namun ia tidak memikirkan hal itu. Dengan motor bebek butut tahun 1993-nya, ia menerabas tiga puluh lima kilometer menuju Jalan Majapahit. Di sana, ia pernah melihat sebuah kantor pengacara—satu-satunya kantor pengacara yang pernah ia saksikan secara langsung—sewaktu mengantar Mak Yem menjual gelang emas empat bulan lalu.

Masuk ke kantor pengacara itu ternyata tidak segampang yang dikira Ali. Dan sumber dari kesulitan itu adalah dirinya sendiri. Di depan kantor dua lantai bercat krem itu, Ali gemetar. Ratusan butir keringat sebesar kacang hijau terbit di keningnya yang lebar dan berkilat. Kemejanya lengket dan kombinasi bibit minyak wangi serta keringat mulai membuat kepalanya pening. Ia memarkir motornya begitu saja di depan kantor itu. Tepat pada saat itulah, seorang satpam mendekatinya. Bau parfum yang lebih lembut namun segar menguar dari tubuh si satpam, memberi sedikit ketenangan bagi Ali di tengah udara yang tiba-tiba terasa panas dan gerah. Satpam itu tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Satpam itu mengatakan Ali tidak boleh parkir di situ. Ali gelagapan, namun ia akhirnya bisa menjelaskan maksud kedatangannya. Dan satpam itu membuktikan kapasitasnya sebagai pegawai teladan. Ia mengarahkan di mana Ali mesti parkir, lalu mengantar Ali ke dalam gedung, menandatangani buku tamu, dan mempertemukannya dengan seorang perempuan yang bibirnya merah, baju dan roknya merah, rambutnya agak kemerah-merahan, dan baunya jauh lebih segar ketimbang si satpam, begitu segar hingga Ali mengira dirinya tengah berada di taman bunga.