Cerpen Mustafa Ibrahim Delima (Serambi Indonesia, 17 Maret 2019)

Lelaki yang Jatuh Cinta pada Bunga ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Lelaki yang Jatuh Cinta pada Bunga ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

DI timur matahari mulai beranjak naik. Kulitku terpapar sebahagian cahayanya yang masih muda. Mentari itu semakin naik,  sama seperti semangatku belakangan ini, cepat-cepat datang ke kantor. Semangat ini kurasakan sejak kehadiran Rinai.

Rinai pegawai baru di kantorku. Pindahan dari kantor pusat. Ia cantik meski sudah beranak dua. Cuma Lia dan Mira saja yang bilang Rinai itu “biasa-biasa saja”. Aku tahu, sesama perempuan  apalagi sekantor, kehadiran Rinai sudah pasti membuat Lia dan Mira cemburu. Padahal, sebelum Rinai datang, Lia dan Mira juga musuh-musuhan. Saling mengejek. Lia dan Mira memperebutkan perhatian Yuddy. Kehadiran Rinai-lah, yang mencairkan perang dingin di antara keduanya.

Usia Rinai menjelang kepala tiga. Dua tahun lebih muda dariku. Suaminya meninggal dua tahun lalu. Akibat kecelakaaan di jalan raya, katanya suatu ketika. Kini, ia menghidupi sendiri kedua putranya. Di kotaku, ia tinggal di sebuah rumah peninggalan orang tuanya.

Di awal kedatangannya, Rinai menjadi energi baru di kantor kami. Betapa tidak, selain memiliki wajah yang ayu dan kecerdasannya di atas rata-rata, dia pun murah senyum dan humoris. Bukan aku saja yang berpendapat demikian. Semua pegawai di kantorku berpendapat sama. Selain itu, kemampuannya dalam membangun komunikasi sesama pegawai,  membuat ia terpilih sebagai pegawai teladan tahun ini. Lengkap sudah. Ia mempunyai semua syarat yang dibutuhkan untuk dikatakan perempuan ideal.

Maka, wajar saja jika beberapa karyawan laki-laki di kantorku, termasuk Pak Juned, lelaki gaek yang bulan lalu baru menimang cucu itu, juga mencuri-curi padang pada Rinai. Pak Juned, memang mata keranjang. Sejak muda ia sudah seperti itu, suka dengan daun muda, kata Bu Khamisah, suatu ketika.

Sejak Rinai hadir, persahabatanku  dengan Yuddy sedikit renggang. Padahal sebelumnya kami adalah dua sahabat akrab. Lajang dua puluh tujuh itu, diam-diam juga jatuh cinta kepada Rinai, sama sepertiku. Gerak-geriknya telah kupantau sejak sebulan lalu. Terkadang, jika aku sedang tugas luar, kuminta bantuan Ikram, petugas cleaning services di perusahaanku, untuk memantau gerak-gerik Yuddy.

“Ah kau Yuddy, jangan panggil namaku Agam, jika tak bisa bisa memberimu pelajaran,” aku membantin suatu ketika.

Advertisements