Cerpen Kiki Sulistyo (Padang Ekspres, 17 Maret 2019)

Asmara Nalu Yasaya ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Asmara Nalu Yasaya ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Nalu Yasaya punya dua bapak. Bapaknya yang pertama adalah bapak kandungnya. Dia seorang bangsawan dari Pulau L yang pergi merantau untuk belajar dan bekerja. Di Pulau K dia bertemu dengan seorang perempuan yang juga perantau. Mereka kemudian menikah dan mendapat tiga orang anak; salah satunya adalah Nalu Yasaya. Ibu Nalu berasal dari daerah pegunungan, di sekitar aliran Sungai Brantas. Keluarganya yang memegang teguh suatu keyakinan mula-mula menentang niatnya untuk pergi merantau. Tapi Ibu Nalu keras hati. Akhirnya, pihak keluarga mengalah dan membiarkan saja ia melakukan apa yang diinginkannya.

Ibu Nalu seorang perempuan yang suka bekerja keras. Dalam waktu singkat karirnya melesat. Ia bekerja di sebuah balai lelang milik pemerintah. Sementara suaminya, mendapat pekerjaan di perusahaan listrik. Rumah tangga mereka baik-baik saja. Tetapi seiring meningkatnya karir Ibu Nalu, goncangan mulai terjadi. Penghasilan yang lebih besar dari suaminya, membuat ia berubah menjadi arogan dan suka mengatur. Atau mungkin sebaliknya; penghasilan yang lebih kecil dari istrinya membuat Bapak Nalu jadi senewen dan cepat tersinggung. Yang jelas, ketika Ibu Nalu dipindah tugas kembali ke Pulau L, suaminya juga minta dipindah, tapi tak lama kemudian mereka bercerai; Ibu Nalu tetap tinggal di Pulau L, sedang suaminya kembali ke Pulau K.

Dulu, demi bisa menikahi Ibu Nalu, Bapak Nalu membuang gelar kebangsawanannya. Itu pilihan yang membuat dia tak boleh lagi berada dalam lingkar keluarganya, meskipun dia tak sungguh-sungguh dikucilkan.

“Tapi Ibu juga harus mengubah keyakinannya dan ikut keyakinan Bapak supaya bisa menikah,” kata Nalu suatu hari pada Mahrus Putra. Sudah beberapa bulan ini Nalu menjalin hubungan asmara dengan pemuda berambut kribo itu. Dalam pikiran Mahrus, perpaduan antara jiwa bangsawan dan sifat orang gunung bercampur dalam diri Nalu; suka bekerja keras tapi manja, menjaga tata krama sekaligus punya hasrat-hasrat liar. Mahrus sendiri adalah keturunan bangsawan. Dia keponakan Ayi Kaka, Kepala Kaum di suatu daerah bernama Lomahola di Timur Jauh. Tapi tidak seperti banyak kawan sekampungnya, Mahrus memilih pergi merantau untuk belajar dan bekerja. Karena itu ketika mengetahui bahwa Ibu Nalu kemudian menjalin hubungan dengan seorang laki-laki Portugis, dia sesungguhnya tidak terkejut. Perantauan telah membuatnya bisa berpikir lebih terbuka. Namun, karena asmara tak mungkin ada tanpa sandiwara, Mahrus pura-pura terkejut.

Advertisements