Cerpen Anas S. Malo (Fajar, 17 Maret 2019)

Apakah Rumah Kita akan Tenggelam ilustrasi Syahreza - Fajarw.jpg
Apakah Rumah Kita akan Tenggelam ilustrasi Syahreza/Fajar 

Aku hanya diam tak bersuara. Ibu menyapa, aku tetap diam. Hanya bisa menganggukkan kepala, menggeleng kepala. Subuh tadi, air sudah masuk ke dalam rumah, karena hujan deras, berjam-jam mengguyur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bengawan Solo selalu meluap, di musim hujan.

Desaku menjadi titik rawan banjir, dari Klaten sampai ke Cepu dan meluapkan di sebagian wilayah Bojonegoro. Sebagian dari warga sudah mengungsi satu hari sebelum banjir datang. Sebagian masih tetap berada di rumah masing-masing. Selepas salat subuh, ayah mengeluarkan air di dalam rumah dibantu ibu yang hamil 5 bulan. Memeriksa beberapa ruangan, dan mengangkat beberapa barang yang perlu diamankan.

Ibu datang ke kamarku, berjalan agak kepayahan. Perutnya menggembung. Ia menengokku dari pintu. Aku sudah bangun sejak azan subuh menggema di langgar kanan jalan. Ia masuk kamar, memeriksa keadaanku. Membuka gorden berwarna biru. Dari jendela, aku bisa melihat kepungan air merata di sekitar rumah. Lalu jendela itu dibuka. Hawa dingin masuk ke dalam kamar. Malam sudah berangsur-angsur memudar. Suara ayam dan kambing terdengar. Suara riakkan air terdengar dari di ruang tamu, ketika ayah menguras air dari dalam rumah.

Beberapa perabotan rumah mengapung—sandal, baskom, kain. Air menjadikan dalam rumah dingin. Di bawah kolom ranjang air mengenang. Sepasang sandal mengapung. Sementara, suara riakkan air masih terdengar dari dalam ruang tamu, ketika ayah masih sibuk mengurasnya. Aku bangkit dari ranjang, lalu ke luar dari kamar. Dapatku pastikan, sekolah akan libur. Ruang kelasku pasti tergenang air.

Beberapa relawan membantu warga, dengan berbagai bantuan berupa makanan dan keperluan-keperluan lain. Ayah dan ibu bersusah payah untuk mengeluarkan air dari dalam rumah. Aku masih di balik jendela, melihat kepungan air di sekitar rumah. Sepagi ini, langit masih murung bercampur mendung menggumpal, diiringi suara-suara guntur rendah. Tentu saja ini tanda, hujan akan turun kembali.

Lek Marsam menuntun sapi dan beberapa kambing untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Sebagian orang-orang menitipkan ternaknya ke tempat saudaranya yang terhindar dari genangan air. Lalu, orang-orang akan mengungsi di balai desa.

***

Advertisements