Cerpen Ayi Jufridar (Radar Selatan, 11 Maret 2019)

Memburu O ilustrasi JOHNSON TSANG - PINTERESTw.jpg
Memburu O ilustrasi JOHNSON TSANG/PINTEREST 

Seperti ada hantu melintas, bus yang sedang melaju dalam kecepatan sedang mendadak berhenti. Rem menjerit seketika, disusul gerutuan dan teriakan kaget sejumlah penumpang. Tubuh mereka terdorong ke depan sebab tak ada sabuk pengaman. Kalaupun ada, barangkali hanya tertindih di bawah pantat para penumpang.

“Siapkan KTP!” terdengar teriakan. Kernet berjalan dari kursi depan ke belakang sambil meneriakkan kalimat sama tiga sampai lima kali, kalau-kalau masih ada penumpang yang tertidur dan tidak menyadari situasi di luar. Dari gayanya, ia sudah terbiasa menghadapi suasana itu. Ada tentara merazia penumpang agar memperlihatkan kartu identitas. Kalau lupa atau belum memiliki KTP, nasib bisa menentukan lain. Pernah kejadian, seorang penumpang menunjukkan surat izin mengemudi sebagai gantinya. Namun, seorang tentara menghardik; “Kami bukan polisi!”

Di kesempatan lain, ada tentara yang tidak mempermasalahkan penumpang memperlihatkan SIM. Dia malah menyarankan penumpang tersebut segera mengurus KTP. Nasib penumpang seringkali sangat tergantung dengan kebaikan hati tentara, seperti kali ini. Malam ini.

Para penumpang mulai merogoh dompet untuk mengeluarkan kartu identitas. Satu dua penumpang yang sudah terbiasa, langsung mengeluarkan KTP dari saku kemeja. Mereka menyiapkan KTP di saku depan demi pertimbangan kemudahan dan keamanan. Pernah kejadian, seorang penumpang pura-pura mengambil KTP di dompet belakang, tapi ia malah mengeluarkan sebilah belati dari pinggangnya dan menancapkan di dada tentara yang merazia. Penumpang itu mati, ditembak tentara lainnya. Tapi dalam perjalanan ke rumah sakit, tentara dengan belati di dada itu juga mengembuskan napas terakhir.

Sejak itu, para penumpang lelaki diminta turun dari bus saat razia, seperti malah ini. Penumpang lelaki turun dan berbaris di pinggir jalan. Beberapa prajurit menggunakan senter dan menyorot wajah mereka. Tentara lainnya berjaga di depan dan belakang bus, bersiap menghentikan kendaraan yang melintas dari arah barat dan timur—selain mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Advertisements