Cerpen Miftachur Rozak (Radar Jombang, 10 Maret 2019)

Melukis Cinta ilustrasi Istimewa.jpg
Melukis Cinta ilustrasi Istimewa

Aroma roti maryam menggoda nafsu makanku. Bau harum  menyeruak seakan melambaikan tangan dan menggoda. Aku sedang berbaring letih  di pojok pagar musala.  Menikmati sisa tenaga, terkuras habis menjajaki kota Yogyakarta. Tiga hari dua malam mencari singgah untuk sibungsu yang sedang menoreh nasib di salah satu Universitas Yogyakarta. Dompet menipis bagai kertas amplop tanpa isi. Hanya dihuni beberapa lembar uang kertas biru sisa pembelian tiket kereta untuk pulang ke Jombang.  Aroma roti tersebut benar-benar memaksaku untuk  segera bernegosiasi pada penjual. Roti lezat puluhan tahun menetap di kios area Stasiun Lempuyangan.  Lega rasanya ketika perut sudah dihampiri nikmatnya roti tersebut.  Hem, benar-benar tidak ada yang bisa didustakan nikmat Tuhan sang penabur rizki.

Entah, Tuhan melukiskan apa lagi pada senja yang mengukir Stasiun Lempuyangan kota Yogyakarta. Pastinya, aku hanya bisa husnudzon sembari menunggu kereta datang.

Tanpa sadar, aku hanyut dalam tidur setelah kenyang membayar lunas pada lapar dan letihku. Energi kembali merasuk. Akupun pulas walau bau asam menyiksa hidungku. Sarung bagai selimut sutra, dan  lipatan baju kotor menjelma jadi bantal kapuk yang empuk.

Antara mimpi dan nyata, lirih terdengar lonceng mengalun bersautan dengan pengumuman pemberitahuan dari sumber suara. Terompet kereta menyeru dengan ganas ; menghentak  dari tidur singkatku. Bergegas aku panggul tas hitam yang berisi baju –baju kotor dan beberapa buku yang sempat aku beli di pelataran Stasiun. Aku mengira yang datang adalah keretaku, kereta  yang bertujuan ke Jombang. Namun, aternyata kereta tersebut datang dari arah berlawanan.  Hingga aku merasa agak kecewa dengan kehadiran kereta tersebut.

Di tengah–tengah kecewa, rupanya tuhan mengirim sebuah pesan. Aku benar–benar  merasakan keanehan pada diriku, setelah menatap gerbong kereta nomer tujuh. Aku merasakan energi luar biasa. “Tuhan, nikmat apalagi yang engkau berikan pada hambamu ini?”

Pandanganku masih fokus pada gerbong nomer tujuh. Setelah kedipan pertama, aku menyaksikan seseorang yang turun dari gerbong itu. Perlahan memori-memori terbentuk. Pikiran memutar membentuk pola-pola masa lalu yang berceceran. Karena mungkin, yang  aku pandang tersebut pernah terlihat sebelumnya. Namun, di mana? Kapan?.  Aku benar—benar lupa akan hal itu. Aku masih berusaha mengingat, sambil menatapnya. Aku tak rela jika tatapanku menghilang oleh padatnya penumpang yang lalu lalang berjalan.