Cerpen Agung Zakaria (Republika, 10 Maret 2019)

Setagaya Aku Ingin Pulang ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Setagaya Aku Ingin Pulang ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Setagaya di musim dingin tampak putih berselimut salju. Dari balik jendela kamar, kusaksikan orang-orang bermantel tebal berjalan cepat menembus udara yang membuatnya menggigil.

Suhu yang begitu dingin seperti inilah yang membuatku enggan melakukan aktivitas di luar ruangan. Terlebih di usiaku yang tak lagi muda, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar untuk sekadar beristirahat.

Terdengar bel beberapa kali dibunyikan dari luar pintu kamar. Aku terbangun dari istirahatku, dan bergegas membuka pintu.

Sumimasen! [1],” ucap seorang lelaki yang tak pernah kukenali sebelumnya. Di depan pintu yang baru saja kubuka, lelaki itu membungkukkan badan kemudian tersenyum.

Aku tak pernah berpikir akan ada yang menemuiku setelah lama tinggal di sini. Sejak kepergian Taizan−suamiku−lima tahun silam, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen kecil di kawasan ini. Kepergiannya menghadap Sang Kuasa membuatku larut dalam kesepian dan kesedihan. Aku berpikir akan sangat menderita jika harus tetap bertahan di rumah yang pernah kutinggali bersamanya. Dengan tekad bulat, kuputuskan untuk mengubur kenangan dan memulai kehidupan baru.

Gomenashai [2], sedikit menunggu,” ucapku sembari membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf. Aku membuka lembaran ingatanku ketika menatap sesosok di hadapanku. Namun, wajah lelaki itu memang tak kukenal sama sekali.

Daijobu [3]. Ini ada paket untuk Anda!” Masih dalam raut wajah yang sama, lelaki itu menyodorkan sebuah kotak berbalut kertas berwarna cokelat. Dengan rasa penasaran, tanganku gemetar menerima paket yang dibawakannya.

Paket berisi baju hangat itu bertuliskan dari seseorang yang tak kuingat lagi siapa dia. Rupanya usia telah memudarkan ingatan ku akan beberapa orang yang pernah kukenali sebelumnya.

“Eh, tunggu sebentar. Apakah Anda orang Indonesia?” tanyaku pada lelaki berkulit sawo matang itu.

“Bagaimana Anda bisa tahu?” lelaki itu terkejut mendengar pertanyaanku. Meskipun aku belum mengenalinya, wajah sepertinya sudah tak asing lagi bagiku.

Advertisements