Cerpen Mahfud Ridwan (Radar Banyuwangi, 10 Maret 2019)

Ritual yang Tepat untuk Toto Gelap ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Ritual yang Tepat untuk Toto Gelap ilustrasi Radar Banyuwangi 

Kian hari, daging dan lemak di tubuh Mukidi perlahan lenyap persis manusia kurang gizi. Susunan tulang rusuknya makin kentara. Kelopak matanya menghitam, biji matanya seolah mau lepas dari tempatnya, dan dagunya makin tirus. Keadaan fisik tersebut berbanding terbalik dengan rumah yang ia tempati. Mukidi tinggal di rumah mewah besar dengan dinding warna putih salju, lantai keramik mengkilat, dan genteng berwarna hijau yang juga mengkilat. Belum lagi di belakang rumah utamanya masih ada satu bangunan berlantai dua. Namun, tukang dan pekerja belum merampungkan bangunan megah itu.

Rumah Mukidi tak pernah sepi. Tiap harinya ada saja dua tiga orang berkunjung dan bercengkrama atau sekadar ibu-ibu yang membawa baju mereka ke rumah di tepi jalanan desa itu. Mukidi selalu menangani mereka sambil menjahit. Ya, Mukidi salah satu penjahit yang lumayan punya nama di kampungnya. Seperti pria pada umumnya, Mukidi seorang pekerja keras. Terbukti dari usaha jahitannya tiap hari ada saja pelanggan yang menyodorkan kain untuk dijadikan baju, menjahit bagian baju yang robek, atau jahitan lama telah koyak.  Walau sebenarnya rumah mewah Mukidi bukan semata penghasilannya menjahit, tapi juga istrinya yang jadi TKI.

Cak Di, ada mimpi apa semalam?” tanya salah satu kawan. “Bilang kalau ada, biar kucocokkan di buku tafsir mimpi ini dan langsung kupesan angkanya! Ha-ha-ha!”

Mukidi tersenyum, kepalanya menggeleng, kedua kakinya lanjut mengayunkan pedal mesin jahit dan jarumnya menghujam kain batik pesanan. Semalam, Mukidi tak bermimpi, jadi tak ada topik yang bisa ia bahas untuk menafsir. Kawan-kawannya pun sama. Tidak bermimpi.

“Besok, kalau aku tembus empat angka, kutraktir makan kalian semua. Satu hari penuh! Ha-ha-ha!” Ucap Mukidi.

“Mukidi, Mukidi. Perut dan tubuhmu saja ndak kamu urus, mau-maunya mengurusi perut kami,” sergah salah satu kawannya dengan nada mengejek. “Urus dulu istrimu di Taiwan itu!” dan mereka  terbahak serentak.

***

Sambil terus menjahit, otak Mukidi menghitung angka-angka. Angka-angka togel yang berlarian ke segala arah. Seolah kepalanya sebuah kantor paling sibuk di dunia. Mengisi perut baginya seperti bukan kebutuhan primer. Anak pun jarang diperhatikan. Pulang dan pergi cuma pamit seperlunya. Dan kadang tidak pulang sama sekali selama beberapa hari.

Advertisements