Tetapi, apa pun semua muslihat di balik semua permainan ini, aku telah bersumpah hanya menikmati hidupku sebagai pembunuh. Aku tahu benar bahwa hanya ada satu perintah setelah itu; lakukan apa pun asal jangan tertangkap! Di luar perintah itu, aku tahu diam-diam ada bagian berikutnya dari permainan ini. Selain orang-orang Kerajaan yang berusaha menangkapku, ada bayang lain yang juga sedang memburuku. Setiap jejak mesti dibersihkan.

Bayangan itulah yang kini sedang mengintaiku di ujung teleskop, dari arah yang tidak kuketahui. Dengan nyala sebatang rokok aku berdiri di trotoar persimpangan jalan itu. Sebentar ia akan menarik pelatuk senjatanya, lalu kepalaku basah dan berlubang. Tubuhku tersungkur, berdarah di atas trotoar dan salju. Jauh dari tempatku sekarang berdiri, di Tanah Air, Bapak terus berpidato di tengah rakyat, “Seorang alim, seorang pemimpin spiritual bangsa yang dicintai rakyat, telah dibunuh oleh pemerintah yang zalim, oleh rezim yang pengecut dan dungu!”

Seekor gagak hinggap dan berkaok-kaok di depan sebuah kafe yang tampak lengang. Angin menderu dan bergulung di atas hutan kecil yang berwarna putih. Satu dua kendaraan melintas perlahan. Dari arah dan jarak yang tidak kuketahui, bayangan itu mengawasiku di ujung teleskop. Nyala rokok makin pendek lalu padam. Hari bertambah dingin dan gerimis salju mulai turun, bertambah juga tebalnya, seperti uap napasku. Tubuhku terasa beku. Aku masih terus berdiri di simpang jalan itu.

Ahda Imran, lahir di Payakumbuh, 10 Agustus 1966. Pernah melakoni pekerjaan sebagai jumalis dan redaktur budaya di sebuah koran yang terbit di Bandung. Buku terbarunya berupa roman biografi bertajuk Jais Darya Namaku disambut hangat pembaca. Ahda juga menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah teater. Kumpulan puisinya, Rusa Berbulu Merah, masuk daftar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2014.

Hadi Soesanto, lahir di Jem- ber, 25 Mei 1968, menetap di Yogyakarta. Pertama kali berpameran tahun 1989 di Galeri DKS, Surabaya. Kini, ia acap kali mengikuti residensi di luar negeri. Pernah menjadi Top Five Indonesia Art Award VI. Sehari-hari ia juga dikenal sebagai pemain organ tunggal dalam berbagai pesta.

Advertisements