Cerpen Ahda Imran (Kompas, 10 Maret 2019)

Pembunuh Terbaik  ilustrasi Hadi Soesanto - Kompasw.jpg
Pembunuh Terbaik ilustrasi Hadi Soesanto/Kompas

Pagi di musim dingin itu aku mencukur habis jenggot dan semua bulu misaiku. Membakar seluruh dokumen, hingga secarik kertas berisi coretan yang paling tak berguna sekalipun. Keluar dari penginapan, aku merasa lega menemukan hari tak bersalju.

Berdiri di trotoar persimpangan jalan, di antara ceceran salju dan deretan pohon platanus yang membeku, aku tahu benar bayangan itu sedang mengintaiku dari salah satu bangunan. Deretan toko, kafe, restoran orang Turki, gedung sekolah, apartemen, atau mungkin dari salah satu bagian gereja di seberang boulevard.

Seperti halnya seorang pembohong yang fasih mengetahui pembohong lainnya, sebagai pembunuh instingku terlatih benar mencium bau tubuh seorang pembunuh yang sedang mengintaiku. Meski tak bisa kupastikan dari mana arahnya dan berapa jauh jaraknya dari tubuhku.

Pasti ia sudah terlatih menghadapi sasaran dalam udara yang berkabut. Tapi baik kunyalakan juga rokok agar ia lebih leluasa memastikan sasarannya, sekaligus isyarat yang mustahil tidak dipahaminya. Jika saja hari terang, dari ujung teleskopnya ia akan melihat betapa tenangnya wajahku. Betapa ia tahu apa arti sebuah kematian bagiku, bagi jalan perjuangan Bapak dan partai. Jalan rahasia di mana setiap jejak kaki memang harus dibersihkan.

Jika mustahil bagimu menemukan orang yang bersedia mengorbankan hidupnya demi dirimu, orang-orang seperti itu ada di sekeliling Bapak. Jutaan jumlahnya. Aku salah seorang di antara mereka, dan untuk itulah aku sekarang berada di sini.

Semua bermula ketika seorang pembisik berkata pada Bapak, bahwa aku adalah pembunuh terbaik. Melalui orang-orang suruhannya, pembisik itu mengeluarkanku dari penjara, tepat sehari sebelum aku menjalani hukuman mati. Hukuman mati itu tetap dijalankan oleh seorang tahanan yang diseret menggantikanku berdiri di depan regu tembak. Seorang tahanan bermata sayu yang, mungkin kau tak percaya, selalu membawa botol berisi air cucian kaki ibunya.

“Dia harus dipaksa jadi pahlawan agar aku bisa menyelamatkanmu.” Begitu pembisik itu menceritakannya dengan tekanan yang terasa lebih ditujukan pada dirinya; ia telah menyelamatkan hidupku dan aku berutang nyawa padanya. Aku setuju tapi pada hari itu juga aku sangat membenci pembisik itu.

Advertisements