Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 10 Maret 2019)

Narasi Gerimis ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Narasi Gerimis ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

(Kisahan dalam Lima Fragmen)

Perjalanan Jenat

AKU selalu berpikir, bus patas akan sampai ke Bungurasih ketika petang dihiasi gerimis, hingga hujan yang deras itu telah reda ketika bus memasuki Surabaya, dan jalanan kota cuma dihiasi lopak dan hamparan basah. Semua nanar, dari panas siang di keseharian, hilang sesaat, meski fakta dekat laut, ada di daerah pesisir, membuat udara kembali meruapkan gerah—mungkin karena tergesa meloncat dari kabin ber-AC. Aku berlari untuk kencing—seperti biasa. Lalu bergegas mencari taksi serta mintanya agar bergegas ke Lidah Kulon, ke pendapa depan FBS.

Aku ada janji dengan Ifta—sampai kini masih terikat janji. Yang lewat HP, tadi, minta dijemput di sana, yang bersumpah akan terus menunggu di sana. Sampai malam tiba, bahkan tembus sampai remang pagi, untuk (kemudian) bersama-sama merayakan sukses mengatasi sidang: si sarjana yang menunggu momen wisuda—hingga bisa leluasa dirayakan. “Harus datang…” katanya—sampai kini aku selalu mengingat: apa terusannya, karenanya, pada saat itu, aku bergegas ambil taksi dari Bungurasih. Setidaknya, aku telah memaksakan kehendak: akan datang merayakan, meski—sesuai perjanjian awal—Ifta yang seharusnya memberikan ucapan selamat, di Jogjakarta.

Aku tergesa. Terjebak macet. Mutlak belum mandi, tapi AC bus serta AC taksi akan meredam keringat. Aku tahu: keringat merembes saat bergegas di terminal, tidak peduli Surabaya selepas hujan. Dalam perjalanan taksi aku akan bersandar—membisu. Diam mencermati bias sinar matahari menerobos tirai gerimis, menciptakan lengkung semu warna-warni yang semakin memudar ditentang langit. Sekali akan mengambil botol air mineral dari backpack yang teronggok, dan pelan meneguknya. Mungkin si sopir akan melirik, bertanya, “Dari mana?” Aku diam, karena itu bisa jadi serentetan tanya yang mengganggu saat memikirkan senja gerimis dan Ifta menunggu sendiri.

Apa kantin di seberang itu masih buka? Ifta menunggu di sana sambil mencicipi bakso dengan sambal yang disendok gila-gilaan? Aku kelu. Tak bisa membayangkan. Tidak ingin membayangkannya, agar sekadar pasti, karena aku berharap akan segera bertemu. Tapi, aku meminta supaya taksi itu ngebut. “Ada janji, Mas?” kata sopir itu. Tersenyum. Mengiyakan. Dan berharap: ia punya kesimpulan, aku terlambat untuk sebuah janji, karena itu memsibantu dengan secepatnya mengemudi taksi. Tapi, apa bisa secepat imajinasi dan rindu?

Advertisements