Cerpen Dicky Qulyubi Aji (Suara Merdeka, 10 Maret 2019)

Kali Pertama Aku Menangis ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Kali Pertama Aku Menangis ilustrasi Suara Merdeka 

Jam yang aku genggam menunjukkan pukul 23.45. Lelaki itu masih berdiam diri. Tubuhnya seperti membatu di kursi ruang tunggu. Dia duduk sendirian dengan kedua tangan menopang dagu. Wajahnya kuyu. Sorot matanya sendu. Sesekali bibirnya bergemetar seakan sedang mendremimilkan sesuatu.

Tak lama berselang, dia menangkupkan kedua tangan. Membiarkan gelap menyungkup wajahnya. Aku menerka, barangkali kini benaknya riuh dipenuhi pertanyaan yang menuntut jawaban.

Sepertinya aroma obat bercampur bau cat yang sepenuhnya belum kering di dinding membuat kepalanya menjadi lebih pening. Satu per satu keringat dingin bermunculan di kening.

Kedua mataku lekat menatap lelaki itu dari jauh. Sejurus kemudian aku berjalan bersijingkat mendekati dia. Aku berharap kedatanganku tak mengusik atau menambah keruh benaknya. Aku duduk tepat di sampingnya. Dia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Dia masih tertunduk lesu. Dia seolah tenggelam dalam kekalutan yang pelan-pelan membunuh kesadaran.

Beberapa menit berlalu. Aku dan dia sama-sama membisu. Kesunyian terasa begitu pekat. Namun sayup-sayup suara jeritan melengking dari salah satu kamar. Lelaki itu tiba-tiba menggelenggeleng, seakan sedang mengembalikan kesadaran. Aku agak bingung. Secepat kilat dia melesat dari kursi. Setengah berlari dia menuju arah sumber suara. Namun langkahnya tertahan di depan kamar nomor 005. Kedua tangannya memegangi gagang pintu. Bola matanya menatap tajam kaca buram persegi panjang. Mencoba menilisik lebih jauh apa yang sedang terjadi di dalam sana. Terselip rasa penasaran yang mengganjal dalam dada.

Lelaki itu kini terpaku di depan pintu sembari menggigiti kuku. Kegelisahan mungkin sedang mengoyak benaknya. Tanpa permisi aku diam-diam masuk menerobos pintu; lelaki itu seperti menjaga ketat. Sejenak aku mengedarkan pandangan. Dari balik tirai warna hijau, aku melihat seorang perempuan terbaring di ranjang. Kedua kakinya mengangkang. Tangan kanannya menggegam seprai yang lecek. Tangan kirinya mencengkeram erat gorden di belakang kepala. Urat-urat di lehernya menegang. Napasnya tersengal-sengal.

Advertisements