Cerpen Davit Kuntoro (Fajar, 10 Maret 2019)

Ikan-Ikan di Bawah Kaki ilustrasi Irham - Fajarw.jpg
Ikan-Ikan di Bawah Kaki ilustrasi Irham/Fajar 

“Apa yang kau inginkan dengan ikan-ikan di toples itu?”

Pertanyaan yang aku dengar sewaktu berusia tujuh tahun. Hampir saban pagi aku mendapati pertanyaan yang sama oleh ayah. Selama tiga bulan berturut, ikan-ikan kecil masih lincah menari-nari dalam toples. Berkejaran, masih di toples yang sama.

Hingga malam menjelang, ikan-ikan belum tidur. Masih berenang-renang. Tak bisa aku tunggui, ikan-ikan berhenti bermain.

Aku pulang, benar pulang. Setelah dua puluh tahun, aku tidak lagi melihat ikan-ikan. Ayah paham betul apa yang harus dilakukannya. Ikan-ikan ternyata sudah tidak ada. Yang aku lihat, di toples berganti batu-batu kecil yang entah berapa jumlahnya.

“Sudah ayah bilang, biarkan saja batu-batu itu tetap di dalam toples sampai ayah selesai mengumpulkannya penuh, tapi kau tak mendengarkan ayah.” sahut ayah—melihat batu-batu menjadi rumah ikan-ikan.

Ada tiga ikan-ikan. Yang dua berwarna merah kejinggaan dan satu hitam. Sepertinya, ikan-ikan sangat asyik dengan batu-batu ayah. Aku tak tahu lagi harus mencari toples yang lain ke mana lagi. Sekian lama aku merantau, aku sedikit lupa dengan isi rumah ini.

“Kamu kan bisa membeli akuarium baru. Setidaknya sampai ayah penuh mengumpulkan batubatu itu!”

Dan batu-batu sudah terlanjur di buang. Aku memang tak pernah paham dengan hobi ayah. Tidak jelas. Terkadang aku membencinya. Di hobi ayah hampir tidak ada yang menarik.

Di Oktober lalu, aku membawa ikan-ikan lagi, berwarna-warni. Tetapi akhir-akhir ini, ayah tidak mau berbicara denganku bahkan seperti tidak ada percakapan sekali pun kami menonton tv bersama.

Ikan-ikan yang menurutku sangat mengasyikan, kurang mendapat persetujuan dari ayah. Ikan-ikan berenang. Bukankah itu sangat mengasyikkan.

***

Aku lekas kembali ke tanah rantau tempat aku bekerja. Ikan-ikan berenang yang menjengkelkan ayah karena setiap pagi harus diberi pakan. Terpaksa kutitipkan kepada ayah. Karena tidak mungkin aku membawanya ke kota tempat aku bekerja.

Advertisements