Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 10 Maret 2019)

Buron ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Buron ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

SUARA ketukan keras itu telah merusak lelap tidur Sobari. Semula ia mengira suara itu bagian dari mimpi buruknya. Namun, setelah sepenuhnya sadar, lelaki itu langsung menyentakkan selimut. Dilihatnya Ineh dan anaknya sedang menggeliat dan berusaha bangun. Sobari cepat-cepat memalangkan telunjuk ke bibir sebagai isyarat untuk diam. Sementara itu, suara ketukan itu makin lama makin keras, dan mulai berubah menjadi gedoran tak beraturan.

“Keluar kau, Sobari!” seru seorang laki-laki dengan nada berat penuh kemarahan. “Kami polisi. Kau sudah terkepung!”

Suara bentakan keras itu membuat Sobari gemetar dan sesaat berpikir untuk mengambil parang di dapur. Akan tetapi, suara itu kemudian berubah menjadi derak engsel patah dan pintu yang berdebam. Enam sosok lelaki melangkah ke dalam dan mengarahkan senter ke seluruh ruangan.

Ineh terpekik dan membekap kepala anaknya ke dada. Secara naluriah, Sobari melompat dari ranjang dan meraih gelas yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya. Gelas itu meluncur deras dalam ruang yang remang-remang, tepat mengenai kepala salah satu dari ke enam pendobrak pintu.

“Anjing kurap! Aku kena!” pemilik suara itu berteriak sambil membungkuk. “Awas, bangsat itu punya senjata!”

Teriakan itu kontan memicu suasana histeris. Sobari mendengar derap sepatu di lantai dan suara lain yang berteriak-teriak panik. Sesaat sebelum berlari ke arah jendela, Sobari melihat Ineh dan anaknya duduk di ranjang, bingung dan ketakutan. Lelaki itu mendorong mereka dari kasur dan menghalaunya ke bawah ranjang. Ia lalu menggaet selembar baju dan melompat ke arah jendela.

Rumput-rumput yang tumbuh di halaman belakang rumah itu terasa dingin bagaikan es. Jantung Sobari berdebar keras saat berlari menjauhinya. Kini setelah ia memutuskan untuk melarikan diri, tak ada lagi jalan kembali. Jika berhenti, polisi-polisi itu pasti akan menembaknya dari belakang, lalu menaruh senjata di tangannya sebagai bukti bahwa ia melakukan perlawanan.

Advertisements