Cerpen D. Hardi (Solo Pos, 10 Maret 2019)

Berburu Genderuwo ilustrasi Solo Posw
Berburu Genderuwo ilustrasi Solo Pos 

Ramdola menangkapnya. Berita heboh itu nyatanya berhasil menggaet rasa penasaran orang-orang mendatangi warung kopi Mak Sareh. Mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri wujud sejati si makhluk laknat. Mitos yang telah menggegerkan warga sekampung kurun sasi belakangan. Belalak mata-mata itu berebut tempat; seperti apa genderuwo gerangan rupanya.

“Mana sih? Tidak kelihatan ada apa-apanya.”

“Namanya makhluk halus ya tak kasat mata. Tapi ada.”

“Iya, di stoples itu kosong melompong. Tak ada isi.”

“Jangan-jangan nipu.”

“Stres kali.”

“Eh dengar-dengar istrinya ngisi. Kok bisa ya, kan…”

Berlagak abai. Pura-pura tak dengar. Padahal gibah itulah awal musabab ia bersungut-sungut pergi di suatu malam meski cukup lebat hujan mengguyur panas hatinya yang telah bercampur prasangka menuju pondok Ki Mantis guna meneguhkan syak dalam keruhnya benak.

Bagaimana mungkin, dirinya yang pulang kampung hanya dua-tiga kali sekali dalam setengah tahun berlayar tiba-tiba mendapati pengakuan Satim, istrinya, jika ia tengah mengandung buah percintaan mereka yang hanya selintas kepala sepur lewat itu. Apalagi mengingat lima tahun sudah perkawinan berselang tanpa sekali pun isyarat tertanamnya benih di rahim.

Genap tiga bulan selesai masa ekspedisi dari Hong Kong, telah dilihatnya perubahan yang kentara dalam perangai dan bentuk badan Satim. Seolah memberi waktu sang suami menerka-nerka kejutan hidup yang selama ini mereka idamkan, di suatu malam yang sejuk sehabis gerimis melepas rindu, Satim tak menunda lagi kabar itu sampai keesokan hari.

“Aku hamil, Mas. Akhirnya..”

Ramdola diam sesaat. Di antara bimbang dan senang, ia peluk Satim dengan pikiran masih melayang.

“Sudah berapa bulan?”

“Seumuran kamu pergi.”

Advertisements