Cerpen Faris Al Faisal (Koran Tempo, 09-10 Maret 2019)

Boneka Salju ilustrasi Koran Tempow.jpg
Boneka Salju ilustrasi Koran Tempo

ZA GUDNY FARISDOTTIR hanya bisa memandangi keindahan musim dingin dari kaca jendela yang ditempeli embun. Bocah perempuan berusia 7 tahun itu sebenarnya sudah rindu bermain bola salju di pelataran Gereja Hallgrimskirkja sambil memandangi puncak bangunannya yang menunjuk langit. Ayahnya pernah berjanji akan datang pada saat salju benar-benar menebal di Kota Reykjavik, Islandia. Namun, saat seluruh Kota Reykjavik telah dibungkus salju dan kerut dingin es, ayahnya belum datang juga. Bahkan keberadaannya kini hilang secara misterius.

Minggu lalu, Za Gudny menelepon ayahnya yang bekerja di Kota Edinburgh. Dalam sambungan seluler itu, ayahnya akan pulang tiga hari lagi. Namun, ini sudah lewat tiga hari dari hari yang dijanjikan, ayahnya tak kunjung datang. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ayahnya, tapi nomor telepon yang ditujunya selalu terputus. Ibunya, Zamira Junaididottir, pun ikut cemas memikirkan suaminya. Kabar yang beredar menyebut, di Edinburgh, cuaca tiba-tiba menjadi ekstrem. Musim dingin dengan badai salju menimbun sebagian kota. Beberapa warga menjadi korban karena fenomena alam yang tak biasa itu. Segala alat komunikasi dan transportasi yang menghubungkan Kota Edinburgh tak berfungsi untuk beberapa hari ke depan. Hanya sepenggal harapan dan sepotong doa, semoga suaminya, Faris Fauzison, terlindungi dan bisa selamat hingga kembali berkumpul dengan keduanya.

“Apa kita hanya duduk-duduk di rumah, Bu?”

“Apakah pantas, saat ayahmu tak ada kabar berita, kita keluar untuk bersenang-senang, Nak?”

“Kita keluar bukan untuk bersenang-senang, Bu.”

“Lantas, untuk apa?”

“Kita mencari kabar tentang ayah.”

“Di mana? Ke mana?”

Za Gudny tak menjawab. Matanya yang bening kebiruan menitikkan air kesedihan. Sedih yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang ringkas. Sebab, bagi anak-anak sekecil itu, kesedihan bisa muncul mendadak karena keinginan yang tak terpenuhi. Maka tak heran jika anak-anak lebih cepat menangis dibandingkan dengan orang dewasa.

***

Advertisements