Cerpen Khairul Umam (Rakyat Sultra, 04 Maret 2019)

Bisikan Tanah ilustrasi Rakyat Sultraw.jpg
Bisikan Tanah ilustrasi Rakyat Sultra 

Setiap melewati jalan raya Badur ini, setelah tikungan pertama dan di antara bangunan besar, hotel, dan rumah mewah itu, aku selalu dihinggapi perasaan aneh. Aku pun tidak mengerti perasaan semacam apa yang selalu bersarang di dada hingga memaksa berhenti beberapa lama hanya untuk sekadar melihat sebuah pemandangan yang juga aneh.

Perasaan itu baru muncul sekitar setahun belakangan ini. Atau mungkin aku baru merasakan meski sebenarnya keanehan itu sudah tampak begitu lama. Di seberang jalan raya ini, di antara bangunan besar yang dindingnya dibuat menjulang dan pongah, terdapat sepetak sawah yang begitu muram. Satu-satunya sawah yang tersisa, tampak layu dan suram. Tubuhnya penuh lebam dan memar di sana-sini. Bau pesing begitu jelas membaluri sekujur tubuhnya. Ia seperti seorang pengemis yang tidak bisa berjalan dan berbicara. Hanya menunggu dan pasrah apapun yang ditimpakan padanya. Lalat dan nyamuk menggerogoti. Kumal dan kusam sudah melekat padanya. Mulutnya bau, matanya sendu, dan tentu tubuhnya rapuh.

Rumput liar dan ilalang menjulang tumbuh begitu lebat namun jauh dari subur. Ia hanya sekadar tumbuh asal-asalan dan serampangan sehingga terlihat mengerikan. Sedang di antara akar-akarnya, ribuan makhluk hidup berenang ke sana ke mari. Mereka juga bukan sedang berpesta. Hanya karena keterpaksaan dan keterpenjaraan. Tak ada pilihan lain selain berenang saja dan pasrah. Sudah pasti, makhluk-makhluk itu pelan-pelan akan mati satu per satu. Membusuk dan sisa bangkainya menjadi sumber penyebab sawah itu semakin keruh dan muram dan makhluk-makhluk lainnya ikut menjadi korban.

Sore hari, sepulang kantor, biasanya aku menyempatkan berhenti di sana. Entah karena apa aku pun tak begitu paham. Tiba-tiba saja ada perasaan yang mengikatku dengan hamparannya yang sudah menua dan rapuh. Seakan-akan sawah yang muram itu berbisik kepadaku tentang sesuatu yang aku pun juga tak begitu mengerti apa. Tiba-tiba saja perasaanku berkata berhenti dan diamlah. Maka aku berhenti dan diam. Mengamati hamparan yang sunyi dan terbuang.

Advertisements