Cerpen D. Hardi (Jawa Pos, 03 Maret 2019)

Sunyi Bercerita tentang Kesunyian ilustrasi Budiono - Jawa Posw
Sunyi Bercerita tentang Kesunyian ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

DI setiap jeda waktu yang tak terlalu jarang, lelaki tua itu terlihat selalu tak jauh dari mesin tik kesayangan. Terlepas dari cuaca yang sedang tak menentu, keperluan genting yang mengharuskannya keluar rumah, atau kunjungan mendadak para tamu. Sebab, benda itulah satu-satunya hiburan paling masuk akal di hari tua, mengelakkan layar televisi yang melulu bicara sensasi, bujuk rayu komersial, dan kepalsuan tingkah para politisi yang membuatnya jengah belaka. Ia telah menghabiskan hampir seluruh usia untuk mempelajari banyak hal di dunia ini, kecuali menjadi tua.

“Ide itu seperti bisikan langsung Mahakuasa yang datang tiba-tiba. Daya ingat manula makin menyusut,” gumamnya seperti bicara sendiri, menguak alasan.

Di waktu-waktu lampau saat pikiran masih setajam penglihatan, jemari si lelaki begitu lincah menari pada tuts aksara, berampai kepulan asap merajah paru, berderap laiknya langkah serdadu saat parade. Seirama Strauss memainkan Waltz tiga perempat The Blue Danube yang sering ia putar, sensasi bunyi tak-tok dari moncong mesin tulis manual adalah anestesi dari perangkap kesepian.

Mesin tik tua itu setia menemaninya hidup, sebaik-baiknya hidup secara manusiawi di tengah kehidupan manusia yang kini telah berubah, bagai mesin. Ia akan tenggelam di pusaran waktu, mengail ribuan kata untuk bercerita, perihal apa pun yang menurutnya penting dan patut untuk diceritakan. Sebagaimana ingatan lama yang masih tersisa, kecakapan itu nyatanya diwarisi dari sang ibu yang keburu mangkat sebelum ia mengenal bangku sekolah. Ia tak akan tidur sebelum ibu menceritakan sebuah kisah, menumbuhkan tunas imajinasi di kepalanya. Setelah tumbuh besar, tunas itu mengejawantahkan banyak anak tulisan.

Menulis bak pelengkap hikayat. Menjadikannya berarti setidaknya bagi diri sendiri.

“Bagaimana Bapak bertahan di penjara? Bertahan dalam kesunyian?”

“Ada saja cara membunuh sunyi.”

“Apakah Bapak mendendam?”

“Buat apa? Saya tak punya kekuatan apa-apa. Tak akan ada yang berubah. Hidup terus berjalan,” lenguhnya pelan sembari mengisap sisa keretek.

Advertisements