Cerpen Budi Sardjono (Kedaulatan Rakyat, 03 Maret 2019)

Sang Orator ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Sang Orator ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

“SELAMAT datang Bapak Matohar!” teriak penyanyi itu di sela-sela ia menyanyikan lagu Jaran Goyang. “Dimohon para hadirin semua berdiri!” lanjutnya lantang.

Para tamu yang duduk di depan panggung serentak berdiri. Matohar menebar senyum sambil melambai-lambaikan kedua tangannya. Empat laki-laki berseragam dan bertubuh kekar mencari jalan untuknya. Dua di depan, dua di belakang.

“Hidup Bapak Matohar!” teriak penyanyi tadi. Langsung disahut dengan tepuk tangan yang riuh oleh orang-orang di lapangan itu. Beberapa orang mengibar-ibarkan bendera. Ada juga yang melempar topi ke udara.

“Jaran goyang-jaran goyang…. Para hadirin boleh duduk kembali!” Orang-orang itu seperti kena hipnotis, langsung kembali duduk di tempatnya masing-masing.

“Apa salah dan dosaku, sayang,

Cinta suciku kau buang-buang

Lihat jurus yang kan kuberikan

Jaran goyang, jaran goyang…..

Hoooiiiii, terima kasih!” Penyanyi dengan rok ketat di atas lutut itu lalu membungkuk tanda ia akan turun panggung. Kembali tepuk tangan meledak di lapangan. Juga suitan-suitan nakal dari beberapa anak muda.

“Lagi! Lagi!” teriak beberapa orang.

“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak yang lain.

“Baik, baik. Nanti akan kita goyang lagi dengan lagu Bojo Galak. Sekarang saatnya kita semua mendengarkan pidato Bapak Matohar. Beliau idola kita semua. Pembakar semangat agar jiwa kita jadi berkobar-kobar. Jangan sampai jiwa kita melempem seperti kerupuk kena angin. Maka, kami mohon, Bapak Matohar untuk berkenan naik ke atas panggung!” teriak pembawa acara dengan suara lantang.

Matohar mengangguk-angguk. Ia membetulkan letak dasi dan merapikan jasnya. Sebelum berdiri ia menoleh kepada perempuan yang duduk di samping kanannya. “Jadi aku harus bicara sesuai rencana?” bisiknya.

Advertisements