Cerpen Delvi Yandra (Padang Ekspres, 03 Maret 2019)

Keadilan Bardi ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Keadilan Bardi ilustrasi OrtaPadang Ekspres 

“SAYA sudah membaca semuanya,” kata Bardi seraya melempar sebuah map ke atas meja. Tetapi padangan matanya jatuh ke luar jendela. Awan bergerak pelan, membentuk gumpalan dan menyuruk di balik gedung-gedung. Ia membayangkan wajah Omak yang kini entah di mana.

Bardi memutar tubuhnya. Ia lihat dua pria yang sedang duduk di hadapannya. Pandangannya tajam seperti menusuk jauh ke dalam bola mata dua pria itu. Ingatannya begitu pekat penuh dendam. Tetapi, tentu sikap semacam itu bukanlah jati dirinya. Pada saat yang sama, Bardi merasa hatinya hampa seperti hari-hari yang dialaminya sejak peristiwa memilukan itu.

***

Kesepian telah menjadi temannya sejak kecil. Saat usianya delapan tahun, rumah telah jatuh dalam kesunyian. Pikiran Bardi melompat jauh ke belakang—tepat di Sinaboi, sebuah kampung kecil di ujung Bagansiapiapi.

Rumah Bardi dikelilingi kebun sawit dengan lantai dan dindingnya yang terbuat dari papan. Jauh di belakangnya, sungai mengalir tenang. Tidak ada sofa di ruang tamu, juga tak ada kamar mandi di dalam rumah. Kalau mencuci pakaian dan mandi, keluarga Bardi harus pergi ke sungai yang jaraknya beberapa kilometer. Hampir semua rumah di sana tidak memiliki kamar mandi sendiri. Maka, kalau langit sudah gelap, keluarga Bardi hanya memanfaatkan air dari tempayan yang ada di belakang rumah—baik untuk mandi maupun kencing.

Rumah Bardi termasuk rumah yang biasa saja di kampung. Tidak ada televisi atau radio. Di bawah pajangan foto dekat dinding di ruang makan, tepat di atas sebuah kardus berwarna merah terang tergantung satu bundelan kalender. Setiap pagi, Bardi naik ke atas kursi, dan merobek satu halaman kalender itu setelah ia bangkit dari tidur. Seolah-olah ia menjadi seorang penjaga waktu di rumah itu. Kebiasaan semacam itu dilakukan setelah dua kakak perempuannya, Rara dan Rita berusia tujuh belas tahun.

Bermula dari ulang tahun yang tidak pernah mereka rayakan, Omak menangis sepanjang pagi di depan kalender itu. Ia perhatikan bahwa Omak selalu menangisi diri di depan halaman kalender yang sama setiap tahun. Seperti detak jam yang kerap menidurkan mereka di waktu petang yang kadang-kadang terdengar seperti bom waktu yang siap meledak.

Advertisements