Cerpen Kartika Catur Pelita (Solo Pos, 03 Maret 2019)

Kamboja Ranjang ilustrasi Solo Posw.jpg
Kamboja Ranjang ilustrasi Solo Pos 

Pada setiap sudut graha ini menguar harum kamboja. Engkau menaruh bunga kamboja kuning pada ruang tamu. Kau letakkan di tengah-tengah meja makan kita setangkai bunga kamboja merah. Pada dipan cinta kau tebartaburkan kamboja putih. Lemari-lemari pakaian kau sisipi kamboja kering. Dapur tempat kau paling sering beraktivitas pun di sana bersemilir silir wangi kamboja.

“Aku suka memasak sambil mencium kamboja,“ katamu suatu hari. Maka dari tanganmu yang mungil cekatan terciptalah menu-menu yang menggairahkan, memacu lapar mata, pun lapar perut. Tempura bunga kamboja, terancam kamboja, nasi goreng kamboja cinta, teh harum adem kamboja.

“Mengapa kau suka bunga kamboja, Sayang?”

“Karena kamboja abadi, pada saat dia segar, ataupun kering, kamboja tetap harum mewangi.”

Bunga-bunga kamboja pun tumbuh di pelataran hati dan rumah kita.

***

Mengenang kamboja adalah mengukir prasasti hidupku. Keluarga kami yang miskin nelangsa. Tinggal di area pekuburan. Semenjak SD aku sudah biasa belajar berteman nisan. Selain menarik becak, ayah juga perawat kuburan. Ibu bekerja serabutan. Mencuci baju tetangga, membersihkan rumah, disuruh ini itu orang, demi segenggam uang.

Sepulang sekolah, aku diajak kakak mencari bunga kamboja. Kau tahu ranting pohon kamboja ringkih, karenanya kudu hati-hati ketika menaiki. Pernah karena teledor, aku terjatuh. Untung pohon yang kupanjati tak begitu tinggi. Tubuhku sakit terserempet kayu nisan. Hingga SMP aku terus mencari bunga kamboja di kompleks pekuburan. Jika bunga kamboja sudah banyak, ibu menjemurnya. Dua pekan sekali pengepul datang membeli kamboja kering. Aku dan kakakku senang karena kami mendapat uang saku lumayan. Sebagian kami berikan kepada ibu. Kami bahagia karena kamboja.

Kesukaanku mencari bunga kamboja berakhir ketika areal pekuburan tempat mencari nafkah dibeli investor. Di sana hendak dibangun kompleks permakaman mewah. Kami harus hengkang. Ayah memilih pulang kampung di dusun kecil di ujung Pulau Jawa. Kakek mewariskan sebidang tanah, ditanami ketela singkong dan sayur mayur. Ayah menjadi petani. Banjir bandang menghajar dusun. Lahan kami satu-satunya hilang, menenggelamkan ayah untuk selamanya.

Advertisements